TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG – Di bawah terik matahari yang kerap membakar Kabupaten Ketapang, sebuah lapak sederhana di depan MTsN 1 Ketapang tetap berdiri kokoh.

Di sinilah Umi, perempuan berusia 51 tahun yang akrab disapa Bude Umi, sehari-hari merawat asa lewat kesegaran es teler dan racikan rujak buahnya.

Lapaknya yang terletak di kawasan Bundaran Tugu Taman Kedondong, Jalan Jenderal Sudirman, bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sebuah keluarga transmigran swadaya.

Semenjak menginjakkan kaki di tanah rantau pada tahun 2006 silam dari Demak, Jawa Tengah, garis hidup Bude Umi telah tertambat di sini.

Bude Umi mengenang, ada lima kepala keluarga yang berangkat bersama-sama dari Demak dengan harapan memperbaiki nasib di Ketapang. Kini, setelah badai ekonomi dan waktu menguji, hanya keluarga Bude Umi yang masih bertahan di jalur ini.

Keberanian Memulai dari Nol

Titik balik kehidupan Bude Umi dimulai ketika suaminya, yang kala itu masih menyambung hidup sebagai kuli panggul di gudang Bulog Semarang, mendapat tawaran dari saudara iparnya untuk mencoba peruntungan berdagang rujak di Ketapang.

Langkah besar itu tentu tidak mudah. Keterbatasan modal memaksa Bude Umi mengambil keputusan berani dengan mengajukan pinjaman ke bank.

Baca juga: Dua Pemuda di Kecamatan Manis Mata Ketapang Dibekuk Polisi Diduga Miliki Sabu

Sembari suaminya merintis tempat di Ketapang, Bude Umi memanfaatkan waktu dua bulan di Jawa untuk membekali diri dengan keahlian kuliner.

Ia belajar dengan tekun cara membuat cendol yang kenyal, meracik es campur, hingga mengombinasikan minuman segar.

Setelah modal dan keahlian di tangan, ia menyusul sang suami ke Kalimantan.

Prinsip fokus dan konsistensi menjadi jangkar usaha Bude Umi. Sejak hari pertama membuka lapak hingga hari ini, ia tidak pernah melirik bidang usaha lain.

Ritme hidupnya dimulai setelah kewajiban domestik sebagai ibu rumah tangga tuntas. Pukul 09.30 WIB hingga pukul 17.00 WIB, ia dengan ramah melayani para pelanggan yang datang silih berganti.

Membaca Siklus Pasar dengan Kedewasaan

Sebagai pedagang yang kenyang pengalaman, Bude Umi tidak lagi reaktif terhadap pasang surut pendapatan. Baginya, dinamika pasar memiliki ritme tahunan yang bisa dibaca.

Cuaca panas ekstrem sekalipun tidak menjadi jaminan dagangannya akan habis seketika. Ada masa-masa sulit yang harus dihadapi dengan kepala dingin.

"Kita penjual itu sudah tahu, setiap habis pembagian rapor pasti jualan mulai sepi. Itu siklusnya memang begitu. Kayaknya banyak orang tua yang lebih menghemat karena persiapan anak-anak sekolah, beli seragam, buku, dan kebutuhan lainnya," ujarnya.

Kondisi tersebut diperketat dengan menjamurnya pelaku usaha serupa di kawasan strategis Ketapang.

Kompetisi yang kian padat tidak membuatnya berkecil hati, Bude Umi memilih mengedepankan filosofi Jawa yang diajarkan oleh orang tuanya terdahulu sebagai tameng menghadapi kecemasan ekonomi.

"Kalau kata orang tua Jawa zaman dulu, jualan itu ibarat mancing ikan. Kalau ada yang makan ya kita tarik, kalau tidak ada ya pancingnya dibiarkan saja. Yang penting sabar," tuturnya tenang.

Diversifikasi Menu dan Adaptasi Regulasi

Untuk menjaga stabilitas dapur, Bude Umi menjaga harga dagangannya tetap inklusif bagi kantong masyarakat.

Es campur dan es cendol dihargai Rp8.000, es teler Rp10.000, asinan dan manisan Rp10.000, serta rujak buah segar seharga Rp18.000.

Ketangguhannya juga terlihat dari kelenturan memanfaatkan momentum ekonomi di daerah.

Setiap hari Minggu, saat kawasan tersebut bertransformasi menjadi area Car Free Day (CFD), Bude Umi melakukan diversifikasi produk dengan menyediakan menu sarapan khas Jawa seperti nasi pecel, soto, dan aneka gorengan hangat.

Untuk momen mingguan ini, etos kerjanya berlipat ganda. Ia sudah harus bersiap di lapak sejak pukul 05.00 WIB, sebelum barikade penutupan jalan dipasang oleh petugas. Dedikasi tersebut kerap membuahkan hasil manis.

"Kalau ada acara, jam delapan pagi sudah selesai jualan sarapan. Pernah dapat sampai Rp 900 ribu hanya dari jualan pagi," katanya.

Perjalanan hampir 20 tahun ini bukan tanpa gesekan administratif.

Bude Umi tercatat beberapa kali harus menggeser letak lapak semi-permanen miliknya lantaran dinilai terlalu menjorok ke bahu jalan dan mengganggu ketertiban lalu lintas. 

Patuh terhadap regulasi lokal, ia memundurkan posisi berjualannya.

Meski kini posisi lapaknya sedikit tersembunyi ke belakang dari posisi semula, loyalitas pelanggan tidak luntur.

Cita rasa konsisten dari es teler dan rujak legendaris racikan tangan perantau asal Demak ini terlanjur melekat di ingatan kolektif warga Ketapang. (*)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.