—Bagaimana Jalan Pikiran CEO Dalam Menentukan Masa Depan Tim dan Perusahaannya?

TRIBUN-TIMUR.COM - Peran seorang Chief Executive Officer (CEO) tidak hanya memastikan roda perusahaan terus berjalan.

Dia juga menentukan arah bisnis, membangun tim solid, hingga mengambil keputusan strategis di tengah berbagai tantangan.

Di balik keberhasilan sebuah perusahaan, ada pola pikir dan cara pandang pemimpin jarang diketahui publik.

Melalui program Mind of A CEO, Pusat Pengembangan Bisnis dan Manajemen (PPBM) Kalla Institute mengajak pelaku usaha, manajer, supervisor, hingga calon pemimpin untuk belajar langsung dari pengalaman para CEO dalam menghadapi berbagai persoalan bisnis.

Program ini menjadi ruang berbagi wawasan mengenai bagaimana seorang CEO berpikir, menyusun strategi, serta mempersiapkan masa depan perusahaan dan tim yang dipimpinnya.

Mind of A CEO akan dilaksanakan di Saoraja Ballroom Wisma Kalla, Jl Ratulangi, Kota Makassar, Kamis (9/7/2026).

Program tersebut menghadirkan Chief Operation Officer Kalla Toyota, Robby Wijaya, sebagai narasumber utama.

Latar belakang hingga persiapan event pun dibahas dalam Tribun Business Forum, disiarkan melalui YouTube Tribun Timur.

Hadir sebagai narasumber, Operation Head PPBM Kalla Institute, Tri Suci Gita Wahyuni Suryo.

Ia membahas banyak hal dikemas dengan tema Mind of A CEO: Bagaimana Jalan Pikiran CEO Dalam Menentukan Masa Depan Tim dan Perusahaannya? 

Yuki, sapaannya, mengupas pentingnya memahami Mind of A CEO, tantangan kepemimpinan, hingga pelaksanaan program.

Berikut wawancara selengkapnya:

Bisa dijelaskan Pusat Pengembangan Bisnis dan Manajemen Kalla Institute itu apa?

Pusat Pengembangan Bisnis dan Manajemen Kalla Institute berada di bawah naungan Kalla Institute.

Konsentrasi kami membantu pengembangan bisnis dan manajemen, baik melalui pelatihan maupun membantu proses rekrutmen berupa psikotes dan asesmen agar sebuah usaha bisa berkembang lebih baik.

Ke depan kami juga sedang berusaha menjadi inkubator usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang benar-benar serius mendampingi UMKM hingga berkembang.

Latar belakang pendidikan Anda sendiri, apakah memang di bidang manajemen?

Saya sebenarnya lulusan S1 Psikologi.

Selama bekerja di Kalla sebelumnya saya berada di HR, yang sekarang dikenal sebagai Human Capital Business Partner (HCBP).

Di HCBP kami tidak hanya belajar tentang SDM, tapi juga harus memahami proses bisnis perusahaan dari hulu hingga hilir.

Setelah itu baru menjalankan peran mendukung bisnis.

Ternyata sampai di situ belum cukup.

Orang HR juga dituntut membantu mengembangkan tim. 

Saya harus memahami berbagai bagian dalam perusahaan.

Dari situ saya menyadari bahwa manajemen sangat luas dan kita harus terus belajar.

Saat dipercaya bergabung di PPBM, saya merasa tertantang karena banyak hal yang harus dipelajari.

Harapannya, apa yang saya pelajari dan alami dapat menjadi tempat kita saling belajar bersama.

Sebagai Operation Head PPBM, sebenarnya apa saja perannya?

Saat ini tugas saya memimpin tim yang sudah ada sejak dua tahun sebelumnya.

Di dalamnya ada bagian keuangan, operasional pelatihan, operasional asesmen dan psikotes, hingga mencari klien.

Tantangannya adalah memimpin bagian-bagian yang berbeda.

Dulu saat di HR saya hanya mengurus aspek SDM.

Sekarang saya dituntut memiliki leadership yang kuat, memahami marketing, sekaligus memahami bisnis PPBM itu sendiri.

Seberapa besar peran dunia industri dalam membentuk kompetensi calon pemimpin?

Seorang pemimpin tentu harus memiliki ilmu.

Dia harus belajar apa yang harus dikembangkan.

Tetapi kalau hanya belajar teori, itu tidak cukup.

Dia juga harus memahami implementasinya di lapangan.

Di Kalla Institute mahasiswa diberikan ilmunya sekaligus kesempatan praktik, baik melalui entrepreneurship maupun pengalaman langsung di perusahaan.

Proses magang juga sangat difasilitasi.

Apa lagi yang menjadi pembeda Kalla Institute dengan institusi pendidikan lainnya?

Yang sangat berbeda adalah semangat entrepreneurship.

Mahasiswa tidak hanya diarahkan menjadi pencari kerja, tetapi didorong menjadi pencipta lapangan kerja.

Mereka dibekali ilmu kewirausahaan, digital marketing, dan berbagai kompetensi lain sehingga setelah lulus tidak harus mencari pekerjaan, tetapi mampu membangun usahanya sendiri.

Apakah sudah banyak mahasiswa Kalla Institute memiliki usaha?

Saya belum melihat data pastinya, tetapi jumlahnya cukup banyak.

Bahkan sejak masih menjadi mahasiswa, sebagian besar sudah memiliki usaha.

Selama dua sampai tiga tahun mendampingi asesmen mahasiswa, saya melihat ada yang berbisnis fashion, digital marketing, bahkan ada yang mulai masuk ke investasi dengan skala yang lebih besar.

Karena itu mereka harus didampingi dosen agar tidak salah langkah.

Kalau yang dimaksud dengan bisnis yang lebih ekstrem itu lebih kepada besarnya investasi yang dibutuhkan.

Kalau bisnis fashion mungkin modalnya masih bisa dihitung.

Tetapi semakin besar bisnisnya, tentu semakin kompleks dan membutuhkan investasi yang lebih tinggi.

Karena itu mahasiswa harus benar-benar memahami teorinya sebelum mengambil keputusan, apalagi dalam kondisi ekonomi seperti sekarang.

Menurut PPBM, bagaimana sebenarnya Mind of A CEO?

Mind of A CEO adalah program baru kami.

Kami ingin mengajak para pengusaha di Makassar memahami bagaimana sebenarnya seorang CEO berpikir.

Yang selama ini terlihat hanyalah bisnisnya berkembang, omzet bertambah, cabang semakin banyak.

Padahal kita tidak pernah tahu bagaimana proses berpikir mereka ketika mengambil keputusan.

Bagaimana mereka menentukan tim mana yang harus didampingi lebih intensif, mana yang sudah bisa berjalan sendiri.

Cara berpikir seperti inilah yang menjadi salah satu kunci keberhasilan seorang CEO.

Melalui program ini peserta akan bertemu langsung dengan CEO dan melihat bagaimana pola pikir mereka sehingga dapat diterapkan dalam usaha maupun kehidupan sehari-hari.

Apa perbedaan CEO dengan manajer?

Perbedaannya ada pada lingkup tanggung jawab.

Semakin besar perusahaan, semakin banyak lapisan organisasi.

Manajer memimpin bagian tertentu, sedangkan CEO memimpin keseluruhan perusahaan.

Semua manajer melapor kepada CEO.

Pada perusahaan yang lebih besar lagi biasanya ada lapisan tambahan di antara CEO dan manajer.

Jadi perbedaannya bukan sama-sama memimpin atau tidak, tetapi pada ruang lingkup kepemimpinannya.

Apakah seorang CEO harus berpikir lima atau sepuluh tahun ke depan?

Sebenarnya selama dia menjabat. Bahkan seorang CEO tidak hanya berpikir lima tahun ke depan.

Dia harus memikirkan bagaimana perusahaan tetap bertahan selama mungkin, bahkan sampai menyiapkan penerusnya.

Selain memastikan operasional berjalan, CEO juga harus memastikan ada orang siap melanjutkan estafet kepemimpinan.

Apa kesalahan terbesar seseorang sebelum menjadi pemimpin?

Biasanya berawal dari rasa takut.

Kesalahan bisa terjadi karena terlalu lama mempertimbangkan sehingga terlambat mengambil keputusan, atau justru terlalu cepat memutuskan tanpa mempertimbangkan banyak aspek.

Seorang pemimpin harus mempertimbangkan aspek keuangan, marketing, pelanggan, dan lainnya, tetapi juga tidak boleh terlalu lama ragu.

Kalau dibilang apakah ini hanya faktor internal, tidak.

Faktor eksternal juga berpengaruh. Misalnya saat perusahaan harus memutuskan mengikuti tender.

Kalau terlalu lama, peluang akan diambil orang lain. Kalau terlalu cepat tanpa mempertimbangkan aspek legal dan kontrak, juga berbahaya.

Sering kali CEO dianggap eksklusif. Apa sebenarnya perlu dipelajari dari seorang CEO?

Bukan soal eksklusif atau tidak.

Yang perlu dipelajari adalah bagaimana dia mempertimbangkan segala sesuatu sebelum mengambil keputusan, tetapi tetap berani memutuskan.

Untuk itu dia harus memiliki wawasan yang luas sehingga mampu melihat beberapa langkah ke depan.

Mengapa cara berpikir CEO perlu dipelajari, bahkan oleh orang yang belum menjadi CEO?

Karena dari sana kita bisa belajar lebih awal.

Kalau melihat cara berpikir CEO yang sudah berhasil, kita bisa mengambil pelajaran, meniru, dan menerapkannya dalam usaha sendiri.

Dengan memahami pola pikir seorang CEO, kita akan lebih siap menghadapi berbagai risiko ketika membangun usaha.

Kalau ada dua kandidat, satu sangat pintar tetapi sulit bekerja sama, dan satu lagi biasa saja tetapi cepat belajar, siapa yang lebih berpeluang menjadi pemimpin?

CEO tidak bisa berjalan sendiri. Kalau dia pintar tetapi tidak mampu membawa tim, maka perusahaan juga tidak akan berkembang.

Sebaliknya, orang yang mau belajar, mampu membangun hubungan, dan berkembang melalui pengalaman lebih berpotensi menjadi pemimpin yang baik.

Apa tantangan terbesar yang dirasakan sebagai pemimpin?

Saya sendiri masih belajar karena baru mulai sejak Februari.

Perubahan teknologi, kondisi ekonomi yang naik turun, serta mengelola tim lintas generasi menjadi tantangan besar.

Saya harus memperhatikan semua aspek sekaligus dan tetap berani mengambil keputusan.

Apakah semua orang bisa mempelajari leadership?

Tentu bisa. Rasa takut itu bisa berupa takut salah, takut dikritik, atau takut dimarahi.

Dengan belajar kepemimpinan, kita belajar mengatasi rasa takut tersebut sehingga lebih siap memimpin.

Bagaimana dengan pemimpin yang tidak mau menerima masukan?

Pemimpin seperti itu pada akhirnya sulit membawa timnya berkembang.

Kalau tidak mau mendengar masukan, tim tidak akan berjalan dengan baik.

Secara teori maupun praktik, kepemimpinan seperti itu tidak efektif.

Dampak paling berat bukan hanya gagal mencapai target, tetapi bisa membuat perusahaan mengalami kerugian.

Karena itu pemimpin harus terus belajar, membuka pikiran, membuka hati, dan mau mendengarkan orang lain.

Mengapa belajar dari pengalaman orang lain lebih bernilai dibanding hanya membaca buku?

Karena buku lebih banyak berisi teori.

Kalau bertemu langsung dengan CEO, kita bisa bertanya, berdiskusi, dan mengetahui bagaimana teori itu diterapkan di lapangan.

Itulah nilai tambah yang ingin kami hadirkan dalam Mind of A CEO.

Mengapa memilih Chief Operation Officer Kalla Toyota, Robby Wijaya sebagai narasumber?

Siapa yang tidak mengenal Kalla Toyota di Indonesia Timur.

Pak Robby Wijaya berhasil membawa Kalla Toyota mencapai, bahkan melampaui, target pada 2025.

Beliau juga memperoleh penghargaan Best CEO versi Majalah SWA untuk kategori omzet Rp1 triliun hingga Rp10 triliun.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari beliau, mulai dari cara mengambil keputusan hingga bagaimana mendorong performa tim tanpa membuat mereka merasa tertekan.

Apa yang membedakan Mind of A CEO dengan seminar leadership lainnya?

Kami ingin para pengusaha di Makassar dan Sulawesi Selatan belajar langsung kepada CEO.

Peserta bisa bertanya, berdiskusi, bahkan menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi untuk mendapatkan perspektif baru.

Siapa yang paling cocok mengikuti kegiatan ini?

Business owner, manajer, supervisor, atau siapa saja yang sedang maupun akan memimpin tim.

Ini kesempatan besar untuk belajar.

Peserta akan mendapatkan merchandise dan sertifikat.

Kapan dan di mana kegiatan ini dilaksanakan?

Kegiatan akan dilaksanakan pada Kamis, 9 Juli 2026, pukul 13.00–16.00 Wita di Saoraja Ballroom, Wisma Kalla Makassar.

Konsepnya lebih banyak dialog daripada materi.

Peserta bebas bertanya langsung kepada narasumber.

Mengapa kegiatan ini sayang untuk dilewatkan?

Karena tidak setiap hari kita bisa belajar langsung dari seorang CEO yang sudah mengambil keputusan-keputusan besar dan berhasil membawa perusahaannya berkembang. Sayang jika kita melewatkan itu.

Apa harapan PPBM melalui kegiatan ini?

Harapannya, peserta mendapatkan perspektif dan sudut pandang baru sehingga lebih berhasil dalam mengembangkan usahanya masing-masing.

Kami berharap siapa pun datang, bisa mendapatkan perspektif baru dan sudut pandang baru agar bisa lebih berhasil di usahanya masing-masing.(rudi salam)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.