Tribunlampung.co.id, Pringsewu – Niat hati seorang perempuan muda di Pringsewu, Lampung, untuk menghindar dan menjauh dari konflik rumah tangga siri berakhir dengan petaka mengerikan. 

Baca juga: Pria di Pringsewu Tikam Istri Sirinya hingga Tewas, Lalu Coba Akhiri Hidup

Setelah berulang kali menolak mentah-mentah ajakan bertemu sejak sore hari, wanita berusia 20 tahun tersebut akhirnya luluh dan keluar rumah pada Jumat (26/6/2026) malam. 

Tapi ternyata, langkah itu menjadi keputusan terakhirnya, sebelum ia ditemukan tewas mengenaskan akibat dihujani tusukan senjata tajam.

Korban diidentifikasi bernama Anes Wulandari (20), seorang ibu rumah tangga muda yang menetap di Dusun 5, Pekon Pemenang, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu.

Sementara itu, aktor intelektual sekaligus eksekutor tunggal di balik aksi pembunuhan sadis ini diduga kuat adalah Heru Purwanto (43), seorang buruh harian asal Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.

Kapolsek Pagelaran, Iptu Agus Dharmawan, menegaskan bahwa tim gabungan dari Satreskrim Polres Pringsewu dan Polsek Pagelaran telah merampungkan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Petugas kini tengah fokus merangkai benang merah guna mengungkap motif utama di balik aksi nekat pelaku.

“Benar, telah terjadi dugaan tindak pidana penganiayaan berat yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan intensif, memeriksa sejumlah saksi kunci, serta mengumpulkan barang bukti otentik di lapangan,” tegas Iptu Agus Dharmawan saat dimintai konfirmasi, Minggu (28/6/2026).

Kronologis Penolakan Berujung Cekcok Maut

Berdasarkan hasil rekonstruksi penyelidikan sementara, benih-benih petaka mulai tampak pada Jumat (26/6) sore sekira pukul 17.00 WIB.

Saat itu, Anes sedang berjalan kaki menuju warung kelontong dekat rumahnya dan sempat ditegur oleh Heru, yang kedapatan sedang nongkrong di teras satu di antara rumah warga. 

Merasa hubungan mereka sudah retak, Anes memilih acuh dan mempercepat langkah kakinya.

Tak menyerah, 30 menit kemudian Heru kembali bergerilya. Ia memanfaatkan adik korban sebagai kurir pesan untuk membujuk Anes agar mau menemuinya di luar.

Namun, upaya kedua ini kembali membentur dinding tebal, karena korban secara tegas menolak bertemu.

Puncak keheningan malam pecah sekira pukul 22.30 WIB. Heru nekat menyatroni langsung rumah korban.

Memanfaatkan situasi di mana Anes sedang fokus merawat ayahnya yang tengah terbaring sakit, Heru memakai dalih "ada pembicaraan krusial" untuk memaksa korban keluar dari area rumah.

Nahas, baru berjalan sekitar 20 meter dari teras rumah, tepat di samping dinding rumah warga, keduanya terlibat adu mulut hebat.

Selang beberapa menit, keheningan desa pecah oleh lengkingan jeritan histeris seorang perempuan yang meminta pertolongan medis.

Pelaku Robek Perut Sendiri Setelah Eksekusi Istri

Seorang warga setempat, Erwanto, yang rumahnya bersebelahan dengan TKP langsung tiarap keluar mendengar jeritan tersebut.

Ia sempat melihat bayangan seorang pria berlari kencang membelah kegelapan malam menuju arah perkebunan warga.

Erwanto spontan melakukan pengejaran sembari berteriak meminta bantuan warga sekitar untuk mengepung pelaku.

Namun, kejutan mengerikan justru menanti warga di tengah kebun. Saat melakukan penyisiran, warga justru menemukan Heru dalam posisi tergeletak telungkup di dalam bekas kolam ikan yang mengering.

Kondisinya sangat kritis, perutnya mengalami luka robek menganga akibat tusukan pisau hingga bagian ususnya terburai ke luar.

Warga yang ngeri langsung mengevakuasi pria paruh baya tersebut ke RSUD Pringsewu agar nyawanya tetap tertolong demi kepentingan hukum.

“Dari keterangan awal yang diperoleh penyidik di lapangan, yang bersangkutan (Heru) mengakui telah melukai perutnya sendiri setelah diduga melakukan penusukan fatal terhadap korban."

"Namun, seluruh pengakuan ini tetap harus diuji dan dibuktikan secara ilmiah melalui proses penyidikan lanjutan,” urai Kapolsek Pagelaran.

Selain mengamankan hasil visum, polisi juga menyita sebilah pisau dapur berlumur darah yang diduga kuat menjadi alat utama Heru untuk menghabisi Anes sebelum dipakai untuk merobek perutnya sendiri.

Barang bukti tersebut kini telah dikirim ke laboratorium forensik untuk diperiksa sidik jarinya.

Iptu Agus Dharmawan menambahkan, status hubungan biologis antara Anes dan Heru adalah pasangan suami istri yang menikah secara siri.

Biduk rumah tangga mereka disinyalir sudah lama berjalan tidak harmonis akibat perbedaan usia yang mencolok, hingga berujung pada keputusan pisah ranjang dan pecah tempat tinggal.

“Jenazah korban sudah diserahkan utuh kepada pihak keluarga pasca-autopsi luar dan telah dimakamkan secara layak pada Sabtu pagi (27/6/2026) di TPU Pekon Pamenang."

"Sementara untuk terduga pelaku saat ini masih dijaga ketat oleh personel bersenjata di rumah sakit karena masih menjalani perawatan intensif,” pungkas Iptu Agus Dharmawan.

(Tribunlampung.co.id/Oky Indrajaya)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.