TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Rehabilitasi medik memiliki peran penting dalam membantu pasien stroke kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami manfaat dan pentingnya rehabilitasi medik, terutama bagi pasien pasca stroke.
Hal tersebut disampaikan oleh dr. Marta Sonya, Sp.KFR., AIFO-K dalam Podcast Tribun Pontianak edisi Bingke Soedarso bertema *“Bangkit dari Nol, Panduan Santai Memahami Rehabilitasi Medik dan Adaptasi Pasca Stroke”* yang ditayang secara live di Youtube Tribun Pontianak, Kamis (25/6/2026).
Menurut dr. Marta, gejala awal stroke dapat berbeda pada setiap pasien, mulai dari senyum yang tidak simetris, kelemahan mendadak pada anggota gerak, bicara tidak jelas, kesulitan menelan, hingga penurunan kesadaran secara tiba-tiba.
“Gejala stroke sangat bergantung pada lokasi dan luasnya sumbatan atau gangguan yang terjadi pada otak. Fungsi tubuh yang terganggu akan menyesuaikan dengan bagian otak yang terdampak,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa rehabilitasi medik merupakan cabang ilmu kedokteran yang bertujuan mengoptimalkan kemampuan fungsional pasien setelah mengalami gangguan kesehatan.
“Kalau pijat lebih kepada relaksasi otot, rehabilitasi medik berbeda. Kami berupaya ‘menyekolahkan kembali’ otak dan tubuh pasien agar fungsi yang menurun dapat kembali terlatih dan berkembang secara optimal,” katanya.
Menurutnya, sebagian besar pasien stroke yang dirawat di RSUD dr. Soedarso datang dengan kondisi yang cukup berat.
Karena itu, proses pemulihan sering kali harus dimulai dari kemampuan dasar yang sebelumnya hilang akibat stroke.
Baca juga: Mendikdasmen Tekankan Revitalisasi Sekolah untuk Wujudkan Pendidikan Berkualitas
dr. Marta menegaskan bahwa rehabilitasi medik sebaiknya dilakukan sedini mungkin.
Masa enam bulan pertama rehab merupakan periode emas atau golden period yang sangat menentukan keberhasilan pemulihan pasien.
“Semakin cepat dilakukan rehabilitasi, semakin baik hasil yang diperoleh. Biasanya dalam tiga hingga enam bulan pertama sudah terlihat perkembangan yang signifikan,” ujarnya.
Bahkan saat pasien masih menjalani perawatan di ruang rawat inap, tim rehabilitasi medik sudah dapat mulai melakukan penanganan guna mencegah komplikasi yang lebih berat, seperti kekakuan sendi dan kontraktur otot.
“Jika kekakuan dibiarkan terlalu lama, kondisinya bisa semakin parah. Karena itu latihan dan peregangan harus dimulai sedini mungkin,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh pasien stroke dapat menjalani rehabilitasi medik, tanpa memandang tingkat keparahan penyakitnya.
RSUD dr. Soedarso sendiri memiliki layanan rehabilitasi medik yang cukup lengkap, terdiri dari fisioterapi, okupasi terapi, dan terapi wicara.
Fisioterapi berfokus pada pemulihan fungsi gerak motorik kasar dan penanganan nyeri.
Sementara okupasi terapi membantu pasien melatih aktivitas sehari-hari secara mandiri, seperti makan, berpakaian, dan keterampilan motorik halus tangan.
Adapun terapi wicara tidak hanya ditujukan untuk gangguan berbicara, tetapi juga menangani pasien yang mengalami kesulitan menelan akibat gangguan saraf pasca stroke.
“Ketiga layanan ini bekerja dalam satu tim. Dokter rehabilitasi medik bertugas menganalisis kondisi pasien dan menentukan program terapi yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien,” jelasnya.
Dalam praktiknya, tim rehabilitasi akan memprioritaskan masalah yang paling berisiko terhadap keselamatan pasien.
Misalnya gangguan menelan yang dapat menyebabkan makanan masuk ke saluran pernapasan.
Mengenai penyebab stroke, dr. Marta mengatakan bahwa penyakit tersebut bersifat multifaktor.
Namun sebagian besar kasus berkaitan dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, serta stres yang tidak terkelola dengan baik.
Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga secara rutin minimal 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit setiap hari, menjaga pola makan, serta menghindari rokok.
“Banyak pasien stroke usia 30 hingga 40 tahun yang memiliki riwayat merokok dan gaya hidup kurang sehat. Karena itu perubahan pola hidup menjadi langkah penting dalam pencegahan stroke,” ujarnya.
Selain itu, keluarga pasien juga diingatkan agar tidak melakukan tindakan yang justru dapat memperburuk kondisi pasien.
Salah satunya menarik lengan pasien yang mengalami kelemahan akibat stroke.
“Tangan yang lemah jangan ditarik sembarangan karena dapat menyebabkan cedera pada sendi bahu. Jika pasien mengeluhkan nyeri, itu merupakan sinyal yang harus diperhatikan,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar pasien tidak dipaksa berlatih minum dalam posisi berbaring karena berisiko menyebabkan tersedak dan gangguan pernapasan.
Pasien harus berada dalam posisi duduk dan mampu mengikuti instruksi saat latihan menelan dilakukan.
Meski proses pemulihan membutuhkan waktu, dr. Marta mengatakan setiap perkembangan sekecil apa pun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi tim rehabilitasi medik.
“Hampir sebagian besar pasien menunjukkan kemajuan. Walaupun kecil, perkembangan itu sangat berarti dan biasanya didukung oleh semangat pasien yang tinggi untuk pulih,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan layanan rehabilitasi medik melalui BPJS Kesehatan, dapat memulai pemeriksaan di fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk memperoleh rujukan ke rumah sakit tingkat lanjutan.
Apabila memerlukan layanan okupasi terapi maupun terapi wicara, pasien dapat dirujuk ke RSUD dr. Soedarso.
Sementara itu, pasien umum dapat langsung mengakses layanan rehabilitasi medik di RSUD dr. Soedarso sesuai kebutuhan medis masing-masing. (*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.