Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Membuat jamu di rumah sering dianggap mudah.

Cukup siapkan kunyit, temulawak, jahe, atau berbagai rempah lainnya, lalu rebus hingga sari-sarinya keluar.

Bagi banyak keluarga Indonesia, kegiatan ini bahkan sudah menjadi kebiasaan turun-temurun.

Namun ternyata, tidak sedikit orang yang luput memperhatikan satu hal penting saat meracik jamu.

Bukan bahan yang digunakan, melainkan panci tempat ramuan itu direbus.

Padahal menurut Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. dr. Inggrid Tania, M.Si, alat masak dapat memengaruhi keamanan jamu yang dikonsumsi.

Salah satu yang menjadi sorotan adalah penggunaan panci aluminium.

Baca juga: Ramuan Alami Bukan Jaminan Aman, Dokter Ingatkan Jamu Tetap Punya Risiko Jika Salah Takaran

Kesalahan yang Sering Terjadi di Dapur

Saat membuat jamu, masyarakat umumnya lebih fokus memilih bahan yang segar.

Kunyit dicuci bersih, jahe dipilih yang bagus, dan temulawak dipotong rapi.

Namun perhatian terhadap alat masak sering kali terabaikan.

Padahal menurut Inggrid, tidak semua jenis panci cocok digunakan untuk merebus ramuan herbal.

Beberapa bahan justru tidak dianjurkan karena berpotensi berinteraksi dengan kandungan aktif dalam tanaman obat.

"Yang tidak diizinkan adalah bahan dari aluminium," kata Inggrid pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan di akun Instagram Kementerian Kesehatan, Selasa (16/6/2026)

Peringatan ini penting karena panci aluminium masih banyak ditemukan di dapur rumah tangga Indonesia.

Mengapa Aluminium Tidak Dianjurkan?

Menurut Inggrid, aluminium tidak direkomendasikan karena dikhawatirkan dapat berinteraksi dengan zat-zat yang terkandung dalam bahan herbal selama proses perebusan.

Interaksi tersebut berpotensi mengubah kualitas ramuan yang dihasilkan.

Bukan hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa aluminium termasuk logam yang perlu diwaspadai jika digunakan secara tidak tepat dalam proses pengolahan makanan dan minuman.

"Karena aluminium itu kan logam berat, nanti dikhawatirkan akan berinteraksi dengan zat-zat dari si herbal-herbal yang kita rebus nanti malah efeknya malah sebaliknya," ujarnya.

Karena itu, masyarakat dianjurkan lebih berhati-hati saat memilih alat untuk membuat jamu di rumah.

Panci Apa yang Lebih Aman?

Inggrid menjelaskan ada beberapa jenis bahan panci yang lebih dianjurkan untuk merebus jamu.

Di antaranya adalah:

  • Stainless steel
  • Tanah liat atau tembikar
  • Kaca
  • Enamel

Bahan-bahan tersebut dinilai lebih sesuai digunakan untuk proses perebusan ramuan herbal.

Selain memilih bahan yang tepat, kondisi panci juga perlu diperhatikan.

Panci yang bersih dan terawat akan membantu menjaga kualitas hasil rebusan.

Jangan Asal Merebus

Merebus jamu ternyata bukan sekadar memasukkan bahan ke dalam air panas.

Menurut Inggrid, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar hasilnya optimal.

Salah satunya adalah lama perebusan.

Pada jamu racikan yang menggunakan metode rebus, umumnya cairan dimasak hingga volume air berkurang sekitar setengah dari jumlah awal.

Selama proses tersebut, panci juga sebaiknya dalam keadaan tertutup.

Cara ini membantu proses ekstraksi kandungan bahan herbal berlangsung lebih baik.

Setelah Matang, Jangan Langsung Disimpan Sembarangan

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah tahap penyimpanan.

Banyak orang menganggap proses selesai setelah jamu matang.

Padahal penyimpanan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ramuan.

Inggrid menyarankan agar jamu yang sudah matang dituang ke wadah yang bersih dan kering.

Jika memungkinkan, wadah tersebut juga sebaiknya steril.

Masyarakat juga perlu memperhatikan jenis botol yang digunakan jika ingin menyimpan jamu untuk beberapa waktu.

Jamu Perlu Pengetahuan, Bukan Sekadar Kebiasaan

Menurut Inggrid, membuat jamu pada dasarnya mirip dengan memasak.

Bahan-bahannya banyak berasal dari rempah yang sehari-hari digunakan di dapur.

Namun ketika tujuan konsumsi bukan sekadar minum, melainkan mendapatkan manfaat kesehatan tertentu, maka cara pengolahan menjadi penting.

Mulai dari pemilihan bahan, proses pencucian, ketebalan irisan rimpang, takaran bahan, hingga alat yang digunakan perlu diperhatikan.

Sebab kesalahan kecil dalam proses tersebut dapat memengaruhi hasil akhir yang diperoleh.

Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun tanpa memahami alasan di balik setiap tahapan pembuatan jamu.

Segelas jamu mungkin terlihat sederhana.

Namun sebelum aroma jahe dan temulawak memenuhi dapur, ada banyak detail yang perlu diperhatikan agar manfaat yang diharapkan benar-benar bisa diperoleh dengan aman. (*)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.