Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Sinca Ari Pangistu

TRIBUNMADURA.COM, BONDOWOSO - Antusiasme pecinta keris mewarnai tradisi penjamasan pusaka pada 1 Suro dalam penanggalan Jawa, di Bondowoso, Jawa Timur, Selasa (16/6/2026).

Digelar di Pendopo Agung Panembahan Cakradipuro di Desa Jurang Sapi, Kecamatan Tapen, Bondowoso, milik Irwan Krisdiyanto, juara 3 Dangdut Academy (D'Academy) tahun 2015, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ritual perawatan keris agar terhindar dari korosi, tetapi juga bagian dari pelestarian budaya Jawa yang mulai diminati generasi muda.

​Meski baru memasuki tahun kedua dilaksanakan secara rutin, penjamasan keris pada 1 Suro ini disambut antusias oleh para pecinta keris.

Mulai dari warga desa setempat, hingga sejumlah kolektor dan pecinta keris dari sekitar Jember dan Situbondo turut hadir. 

​Pantauan di lokasi, puluhan keris yang siap dijamas telah berjejer rapi.

Perkakas tersebut dilengkapi dengan uborampe seperti bubur suro lima warna, bunga sedap malam, buah-buahan, dan degan atau kelapa muda. 

​Asrum Setiawan dari Pataka Surabaya (Induk Paguyuban Senapati Nusantara) mengatakan, penjamasan keris biasanya dilakukan pada waktu yang dinilai sakral, yakni mulai malam 1 Suro hingga 10 hari ke depan. 

​Prosesi penjamasan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari diberi sabun, dicelup, dipijat, hingga dikeringkan.

Secara khusus, penjamasan juga menggunakan air warangan yang bertujuan untuk memunculkan pamor atau guratan pada bilah keris. 

Baca juga: Momen 1 Muharram di Bangkalan, Penjamas Keris Panen Puluhan Juta Rupiah dari Ngumbah Ratusan Gaman

​"Ada proses perendaman pusaka dan penyiraman dengan air mawar juga," ujarnya. 

​Ia menambahkan, antusiasme pecinta keris sejak tahun pertama sangat luar biasa hingga mencapai 200 pusaka.

Sementara pada tahun ini, meski baru berjalan beberapa jam, sudah ada sekitar 80-an keris yang masuk.

Prosesi penjamasan ini masih akan berlangsung selama dua hari hingga besok. 

​"Ini belum termasuk yang dari luar kota. Insyaallah nanti malam mereka datang lagi," imbuhnya. 

​Asrum menjelaskan, meski saat ini masih banyak masyarakat yang berpikir mistis terhadap prosesi ini, esensi utama penjamasan sebenarnya bersifat praktis, yaitu agar benda pusaka tidak mengalami korosi (karatan).

Karena itu, setiap bulan keris juga perlu diberi minyak khusus. 

​Di sisi lain, penjamasan ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya leluhur. 

Baca juga: Mengenal Jamasan Perkutut Katuranggan di Madiun, Ritual Sambut 1 Suro

​"Untuk melestarikan budaya supaya tidak punah. Insyaallah sekarang banyak anak muda yang mulai suka keris," jelasnya. 

Permudah Pecinta Keris Merawat Pusaka

Sementara itu, Irwan D'Academy mengaku sengaja menyediakan pendoponya sebagai lokasi kegiatan penjamasan keris. 

​Tujuan utamanya adalah untuk mempermudah para pecinta keris di Bondowoso melakukan perawatan pusaka.

Selain itu, ia ingin menegaskan bahwa keris memiliki nilai historis, seni, dan spiritual luar biasa yang harus terus dilestarikan oleh generasi penerus. 

Baca juga: Grebek Tempe Wedok Meriahkan 1 Suro di Lumajang, 6.000 Tempe Diarak Keliling Desa

​"Penjamasan ini untuk memudahkan masyarakat Bondowoso yang mencintai keris," terangnya. 

​Irwan merupakan salah satu kolektor benda pusaka.

Hingga kini, ia memiliki puluhan koleksi keris.

Satu di antaranya merupakan keris yang diturunkan kepadanya langsung dari sesepuh Keraton Sumenep dan Keraton Solo.

Keris pusaka favoritnya adalah Dhapur Mundarang dengan pamor Beras Wutah era Hamengkubuwono (HB) III. 

​"Sampai detik ini, Irwan berkomitmen menjaga adat budaya peninggalan sesepuh," pungkasnya.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.