TRIBUNJATENG.COM - Masyarakat Jateng sudah mulai banyak yang menggunakan mobil listrik untuk aktivitas harian mereka.
Peningkatan pengguna mobil listrik itu terlihat di kota-kota besar di Jateng seperti Semarang, Solo, atau Magelang.
Beberapa faktor yang mendorong masyarakat beralih ke mobil listrik adalah harga BBM yang kian melambung tinggi, hingga infrastruktur pendukung yang mulai tumbuh.
Jumlah Stasiun Pegisian Kendaraan Listrik Umum di Jateng kian bertambah, sehingga masyarakat kian yakin dengan teknologi ini.
Baca juga: Perbandingan Veloz Hybrid dan Ertiga Hybrid, Harga Hingga Teknologi
Baca juga: Wuling Eksion Hadir di Semarang: SUV Listrik 7-Seater, Jarak Tempuh Hingga 530 Km
Hal itu diamini Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan.
Ia menyebut Jateng salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki pertumbuhan pengguna mobil listrik terbesar
"Bahkan market share mobil listrik kami di sini mencapai 40 persen, jadi kami merasa Jateng masyarakatnya sudah cukup siap dengan EV," terang Luther.
Meski demikian ia mengakui di daerah yang bukan termasuk Kota Besar di Jateng minat publik tentang mobil EV masih belum besar.
Hal itu juga tak lepas dari keberadaan infrastruktur di daerah yang belum selengkap di Kota.
Meski demikian Luther juga menyebut BYD juga memiliki solusi soal itu.
Mereka memperkenalkan MPV berteknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) M6 DM.
Teknologi PHEV menawarkan kombinasi mesin bensin dan motor listrik dengan efisiensi bahan bakar yang tinggi.
Di kelas MPV 7 penumpang, kompetitor terdekatnya yakni Toyota Veloz Hybrid hingga Ertiga Hybrid.
"Sebenarnya BYD ini sudah main di industri dual mode ini dari cukup lama, puluhan tahun dan memang ini juga hasil riset kemampuan dan kapasitas kita di sisi produksi juga menyebabkan kita mampu mencapai level itu," kata Luther.
Namun memang teknologi ini bisa terbilang baru dibawa BYD ke Indonesia yang di beberapa daerah masyarakatnya masih ingin mencoba coba mobil listrik sebelum benar benar beralih.
Luther menyebut, teknologi DM tidak terlalu kompleks untuk BYD, karena perusahaan sudah melakukan riset yang cukup panjang.
"DM sudah mencapai level yang 5.0 yang paling canggih dengan thermal efficiency yang cukup tinggi sampai mencapai 40 persen," ujarnya.
Luther menjelaskan, tingginya efisiensi termal tersebut membuat pemanfaatan energi menjadi lebih optimal sehingga turut mendukung efisiensi biaya produksi.
"Artinya tingkat efisiensi yang dicapai dari energi yang dikonsumsi itu sudah sangat optimal, sehingga kondisi ini kita bisa capai, termasuk juga di sisi harga itu adalah leadership kita dari sisi produksi," terangnya.
Akan Diproduksi Lokal
Luther juga mengindikasikan bahwa BYD akan mengoptimalkan produksi kendaraan tersebut di Indonesia.
Namun, perusahaan belum bersedia mengumumkan secara resmi terkait status produksi lokal M6 DM.
"Pastinya akan kita optimalkan untuk diproduksi di Indonesia. Secara ofisial saya akan pilih waktu yang lebih pas untuk kita mengumumkannya dan menyaksikannya secara langsung," ujarnya.
Meski belum memberikan konfirmasi resmi, Luther mengungkapkan unit M6 DM telah mulai didistribusikan ke jaringan diler BYD di berbagai daerah untuk kebutuhan display dan test drive.
"Iya, kita sudah mulai kirimkan ke beberapa cabang-cabang kita di nasional sebagai fasilitas display dan test drive dulu, dan secara gradually kita akan kirimkan suplainya," ucapnya.(*)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.