TRIBUN-MEDAN.com - Kapolsek Meetro Penjaringan, AKBP Agta Bhuwana Putra mengungkapkan motif dugaan penculikan lansia di kawasan elit Pantai Indah Kapuk (PIK). 

Video penculikan lansia beredar di media sosial. 

Lansia GH (70) nyaris menjadi korban penculikan saat berolahraga pada Kamis 16 April 2026 lalu. 

Pelaku telah diringkus pada Senin (15/5/2026). 

Meski rincian teknis penangkapan belum dipublikasikan, pihak kepolisian memastikan bahwa proses hukum terhadap kedua tersangka kini tengah berjalan.

Belakangan terungkap, otak di balik aksi nekat ini adalah CW (31).

Pria ini nekat beraksi karena sakit hati setelah hubungan asmaranya diputus oleh anak korban.

Sakit Hati Berujung Penculikan

Menurut AKBP Agta, motif utama pelaku murni didasari masalah asmara. CW, yang ternyata telah beristri dan memiliki anak, sebelumnya menjalin kasih dengan putri dari GH.

Namun, rahasia status CW terbongkar oleh sang ayah, yang kemudian memicu penghentian hubungan secara sepihak.

"Setelah ayah korban tahu pelaku punya istri dan anak, hubungan itu diputus. Pelaku langsung di-cut off dan diblokir," ungkap Agta kepada wartawan, Senin (15/6/2026).

Tak terima dengan keputusan tersebut, CW gelap mata.

Ia menargetkan GH untuk diculik dan dipaksa masuk ke dalam mobil, dengan tujuan nekat untuk kembali menuntut penjelasan soal hubungannya dengan sang anak.

Aksi Viral dan Perlawanan Korban

Upaya penculikan yang terekam kamera CCTV ini sempat viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, terlihat lansia GH yang sedang berolahraga tiba-tiba dipepet oleh sebuah mobil Toyota Fortuner berwarna putih.

Seorang pria berjaket hitam dan mengenakan celana jeans keluar dari mobil dan memaksa korban masuk ke dalam kendaraan.

Beruntung, GH memberikan perlawanan sengit dan berteriak keras.

Takut aksinya diketahui warga, pelaku yang ketakutan akhirnya kembali masuk ke mobil dan melarikan diri dari lokasi.

Polisi memastikan, meski aksi ini tergolong nekat, pelaku tidak memiliki niatan meminta uang tebusan. 

"Pengakuannya hanya mau komunikasi, tapi begitu kan, tidak boleh menculik dan melakukan kekerasan," tegas Agta.

Peran Eksekutor dan Janji Mobil

Dalam melancarkan aksinya, CW tidak bekerja sendiri.

Ia dibantu oleh FAP (26), seorang petugas keamanan di apartemen kawasan PIK yang dikenal CW dari pusat kebugaran di lokasi tersebut. 

Untuk memuluskan rencana penculikan, CW memberikan imbalan besar kepada rekannya itu.

"Pelaku kedua dijanjikan mobil oleh pelaku utama," pungkas Agta.

Berkat penyelidikan intensif, motif dan identitas kedua pelaku akhirnya terungkap.

Aksi yang sempat menggegerkan warga PIK ini kini menjadi pengingat akan bahaya obsesi yang melampaui batas kewajaran, di mana pelaku rela menempuh cara kriminal hanya untuk mendapatkan akses komunikasi dengan mantan kekasihnya.

(*/tribun-medan.com)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.