TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah masyarakat, masih banyak beredar mitos dan miskonsepsi seputar vaksinasi.

Salah satunya adalah anggapan badan yang demam setelah disuntik menjadi tanda vaksin gagal.

dr. Visakha Revena Irawan, Sp.PD, AIFO-K dari Mandaya Royal Hospital Puri meluruskan anggapan tersebut.

Salah satu alasan utama orang dewasa malas mendatangi fasilitas kesehatan untuk vaksin adalah rasa takut akan efek samping seperti demam, badan pegal, atau area suntikan yang membengkak.

Dokter Visakha menegaskan, efek samping ringan tersebut justru merupakan kabar baik.

Baca juga: Ebola Bundibugyo Belum Ada Vaksin, WHO Minta Pengawasan Kontak 21 Hari

Hal itu menjadi pertanda bahwa sistem imun tubuh sedang bekerja merespons vaksin yang masuk.

"Respons alami tubuh ya, karena kita dapet virus atau bakteri (yang dilemahkan/inaktif), kita kasih badan kita itu perlindungan. Respon alaminya dia bisa kayak orang sakit tapi gejala-gejala ringan," kata dr. Visakha di acara kesehatan, di Mandaya Royal Hospital Puri, Tangerang, Jumat (29/5/2026).

Gejala seperti demam, nyeri otot, nyeri persendian, hingga badan terasa lemas biasanya hanya bersifat jangka pendek.

"Tapi biasanya cuma short term ya, 2-3 hari habis itu udah. Jadi kalau 'kok bengkak ya? kok nyeri yang bekas disuntik?' itu wajar gitu. Kita kalau pasang infus juga pascanya bengkak gitu di sini," ujar dr. Visakha.

Selain meluruskan mitos, dr. Visakha juga membagikan fakta medis menarik tentang adanya sekelompok orang yang memiliki kondisi unik di dalam tubuhnya, yang disebut sebagai True Non-Responder.

Orang-orang dalam kelompok ini merupakan individu yang tubuhnya benar-benar tidak bisa membentuk antibodi, meskipun sudah disuntik vaksin berkali-kali sesuai dosis yang dianjurkan.

Kasus ini paling sering ditemukan pada vaksin Hepatitis B.

"Orangnya sudah divaksin nih sesuai dosis gitu tiga kali, habis itu dua bulan lagi kita cek titer antibodinya enggak nyampe 10. Biasanya akan diulang tuh vaksinnya tiga kali lagi. Pas dicek, masih juga di bawah 10 atau bahkan enggak deteksi atau negatif. Kita bilang true non-responder," tuturnya.

Lantas, bagaimana cara melindungi orang-orang unik ini agar tidak tertular penyakit berbahaya seperti Hepatitis B?

Menurut dr. Visakha, di sinilah pentingnya cakupan vaksinasi yang luas di masyarakat untuk menciptakan herd immunity (kekebalan kelompok).

Ketika orang-orang sehat di sekitarnya sudah divaksin, maka virus tidak akan bisa menyebar dan kelompok non-responder ini pun ikut terlindungi. 

(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.