Kami bawa kabel karena tahu pemadaman satu Sumatera dari berita. Bahkan ada orang pada numpang ngecas HP, padahal tidak kenal,

Banda Aceh (ANTARA) - Masyarakat Kota Banda Aceh memenuhi warung kopi (warkop) saat terjadinya pemadaman listrik total untuk mencari penghidupan, mulai dari makan, jaringan internet (WiFi) hingga mengecas alat elektronik masing-masing.



"Tadi saat awal listrik padam saya langsung mencari warung kopi, dan ternyata sudah penuh," kata salah seorang warga saat ditemui di warkop SMEA Lingke, Banda Aceh, Jumat malam.


Sebagai informasi, warung kopi di Banda Aceh rata-rata menggunakan genset, sehingga saat listrik padam mereka tetap buka, dan diserbu masyarakat.


Ke warung kopi, ia ikut membawa kabel untuk mengecas handphone serta barang elektronik lainnya sembari minum kopi dan mencari makanan.






"Kami bawa kabel karena tahu pemadaman satu Sumatera dari berita. Bahkan ada orang pada numpang ngecas HP, padahal tidak kenal," ujarnya.


Menurutnya, jika listrik padam seperti ini, maka masyarakat sudah harus bersiap-siap pengeluaran ekstra, karena aktivitas mereka rata-rata ke warung kopi.


Hal senada juga disampaikan warga Banda Aceh lainnya, Iskandar mengaku baru saja mengelilingi Kota Banda Aceh pasca listrik padam sebelum magrib tadi, dan juga sempat singgah di warkop mencari makanan dan jaringan internet.


"Ini baru pulang dari warung kopi cari makanan, di rumah tidak bisa makan karena lampu mati, nasi juga belum sempat dimasak tadi sore," ujarnya.


Saat kembali dari warkop, ia mengaku hampir semua kedai kopi di Banda Aceh yang hidup lampu atau punya genset penuh. Bahkan, banyak masyarakat tidak dapat kursi lagi, sehingga harus mencari warung lainnya.






"Hampir semua warkop penuh tadi, bahkan di jalan-jalan juga macet, tidak seperti biasanya lah," kata Iskandar.


Sementara itu, salah seorang pengelola Warkop Sirnagalih di kawasan Batoh Banda Aceh, Putra mengatakan, warungnya tidak pernah dipenuhi pelanggan saat malam hari ketika listrik menyala.


"Kalau hidup lampu paling beberapa kursi aja yang penuh. Tapi malam ini semua terisi karena orang-orang perlu listrik," katanya.


Putra mengaku, tidak kaget dengan kondisi ini, karena sudah pengalaman saat bencana hidrometeorologi Aceh akhir November 2025. Di mana, kala itu hampir sebulan Aceh tanpa listrik.


Saat bencana lalu, lanjut dia, omzet warkopnya meningkat signifikan hingga tiga kali lipat, karena orang-orang mencari listrik mulai dari pagi hingga dini hari. Karena sudah punya pengalaman, mereka telah mempersiapkan segalanya jika sewaktu-waktu kondisi itu kembali terjadi.


"Makanya, pascabencana kemarin kita langsung beli genset untuk jaga-jaga mati listrik lagi. Dan tadi kami sudah siap, warkop tetap buka seperti biasa," ujar Putra.






Terpisah, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh menyatakan, aliran listrik di provinsi tersebut mengalami pemadaman total akibat adanya gangguan pada sistem suplai listrik.


"Kami saat ini terus berkoordinasi dengan tim di lapangan untuk memastikan terkait penyebab dari gangguan suplai listrik di Aceh," kata Manager Komunikasi dan TJSL PT PLN UID Aceh Lukman Hakim.


Ia menjelaskan, untuk memastikan perbaikan dan penormalan terhadap gangguan suplai tersebut, PLN mengerahkan ratusan personel yang bekerja non-stop.


"Saat ini tim terus bekerja maksimal di lapangan guna menormalkan kembali aliran listrik," kata Lukman Hakim.