Jakarta -
Pernahkah di suatu malam hari ketika sedang ingin tidur, tiba-tiba teringat momen memalukan semasa sekolah? Momen tersebut biasanya membuat bergidik sehingga bikin 'cringe' sendiri.
Rupanya, fenomena itu adalah hal yang normal, lho. Ada penjelasan ilmiah di balik hal tersebut.
Dikutip dari Forbes, ahli psikologi menggunakan istilah 'perseverative thinking' untuk menggambarkan pola pikir berulang yang sulit dikendalikan dan terus berputar di sekitar hal-hal yang menimbulkan stres. Ini juga termasuk merenungkan masa lalu, misalnya 'kenapa aku bilang begitu?', mengkhawatirkan masa depan seperti 'bagaimana kalau aku mempermalukan diri lagi?', hingga evaluasi diri yang berulang.
Dalam ulasan tahun 2025 yang dipublikasikan di Dialogues in Clinical Neuroscience, para ahli saraf menjelaskan proses ini muncul dari interaksi yang tidak berfungsi dengan baik antara beberapa sistem psikologis yang terlibat dalam pengaturan diri.
Penulis studi menjelaskan pikiran manusia secara alami menghabiskan banyak waktu terlepas dari realitas saat ini. Bahkan ketika sedang berjalan, mandi, atau duduk bekerja, kita secara mental mengunjungi kembali masa lalu, membayangkan kemungkinan masa depan, memutar ulang percakapan, atau menciptakan skenario fiktif sepenuhnya.
Dalam banyak hal, kemampuan ini berguna secara psikologis karena membantu seseorang merencanakan masa depan, memecahkan masalah, dan membangun identitas diri yang utuh. Namun, masalah muncul ketika pikiran mulai memperlakukan pikiran yang mengganggu sebagai ancaman yang belum selesai dan harus terus dipantau.
Perseverative thinking sebagian dipicu oleh apa yang disebut peneliti sebagai 'discrepancy monitoring' atau kecenderungan otak untuk terus membandingkan kenyataan dengan bagaimana sesuatu 'seharusnya' terjadi. Inilah yang membuat kenangan memalukan terasa begitu melekat, karena otak terus menandainya sebagai urusan yang belum selesai.
Kesalahan sosial terasa belum terselesaikan, sehingga pikiran terus menariknya kembali ke kesadaran dalam upaya untuk memproses atau memperbaikinya secara retrospektif.
Ironisnya, latihan mental yang berulang ini justru memperkuat kenangan tersebut alih-alih menyelesaikannya. Para peneliti mencatat perseverative thinking dapat secara perlahan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.
Jika kenangan negatif tertentu terus 'dipanggil' kembali, maka kenangan itu menjadi semakin mudah diakses seiring waktu. Akibatnya, ancaman sosial terasa lebih sering terjadi, lebih penting, dan lebih mungkin menyebabkan penolakan dibanding kenyataannya.