TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Suasana duka masih menyelimuti keluarga kecil Putri Atika Zahra, bocah perempuan berusia delapan tahun asal Desa Tri Kembang, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Gadis kecil yang dikenal ceria itu meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di Jalan Raya Kembayat, tepat di depan Masjid Al Huda Kembayat, Kamis 14 Mei 2026 menjelang waktu magrib.
Baca juga: RX-King Maut! Kronologi Pengendara RX-King Asal Sanggau Tewas Ditempat Usai Kecelakaan dengan Truk
Hari itu seharusnya menjadi sore biasa bagi Putri.
Ia bersiap menuju masjid untuk menunaikan salat magrib.
Namun langkah kecilnya justru menjadi perjalanan terakhir yang tak pernah kembali.
Paman korban, Apryadi, masih mengingat jelas momen sebelum kecelakaan terjadi.
Saat itu ia baru pulang dari lapangan bola dan melintas di depan masjid.
Tanpa disangka, Putri berusaha mengejarnya.
“Dia mau mengabari ke saya mau menginap ke rumah saya. Jadi merasa melihat saya lewat dia mengejar saya,” ujar Apryadi, Minggu 17 Mei 2026.
Baca juga: Kronologi Pelajar Putussibau Tewas Kecelakaan, Korban Terpental Masuk Parit Usai Tabrak Mobil Kijang
Bocah kecil itu disebut berlari tergesa-gesa karena takut pamannya keburu pergi.
Namun dalam hitungan detik, suasana berubah menjadi kepanikan.
Diduga sebuah minibus putih yang melaju dari arah Sambas menuju Galing menabrak Putri hingga tubuh mungilnya tergeletak di aspal jalan.
Kendaraan tersebut kemudian terjun ke parit di pinggir jalan.
“Pas saya melihat ke belakang, posisinya sudah ditabrak,” kata Apryadi lirih.
Dalam kondisi panik dan penuh kecemasan, keluarga segera membawa Putri ke RSUD Sambas sekitar pukul 18.00 WIB.
Harapan keluarga masih besar agar nyawa Putri bisa diselamatkan.
Namun di rumah sakit, korban disebut harus dirujuk ke Pontianak karena luka yang dialami cukup berat.
Yang membuat keluarga terpukul, proses rujukan disebut baru berjalan setelah berjam-jam menunggu.
“Katanya harus dirujuk ke Pontianak. Tapi sampai sembilan jam di rumah sakit, rujukan belum diproses,” ungkap Apryadi.
Menjelang dini hari, ambulans akhirnya berangkat menuju Pontianak. Namun takdir berkata lain.
Di tengah perjalanan, tepatnya saat ambulans tiba di wilayah Selakau, Putri mengembuskan napas terakhirnya.
“Kondisinya cuma sampai Selakau, sudah tidak bisa diselamatkan,” katanya.
Bagi keluarga, kehilangan Putri bukan sekadar kehilangan seorang anak kecil.
Ia adalah sosok yang aktif, dekat dengan keluarga, dan penuh keceriaan.
Apryadi mengaku hingga kini dirinya masih sulit melupakan kejadian sore itu.
“Yang saya lihat kondisinya sudah ketabrak mobil dan sudah terbaring di jalan,” ucapnya dengan suara berat.
Meski dirundung duka mendalam, pihak keluarga memilih menyelesaikan persoalan kecelakaan tersebut secara kekeluargaan dan tidak memperpanjang masalah.
“Kami pihak keluarga tidak mau memperpanjang masalah. Jadi diselesaikan secara kekeluargaan saja,” katanya.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.