Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Batik peranakan Tionghoa yang selama ini menjadi bagian penting dari sejarah budaya Indonesia kini menghadapi ancaman serius.
Jumlah pembatiknya terus berkurang dan sebagian besar tidak memiliki penerus keluarga yang mau melanjutkan usaha membatik.
Kondisi itu diungkapkan seniman, desainer, dan edukator batik Indonesia Dave Tjoa dalam Pameran “Metamorfosa: Akulturasi Batik Peranakan” di Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas, Jakarta.
Rumah Batik Legendaris Mulai Berhenti Produksi
Menurut Dave, beberapa rumah batik peranakan legendaris mulai berhenti beroperasi karena tidak ada generasi penerus.
Baca juga: Dorong Batik Lebih Dekat dengan Anak Muda, Rumah Batik TBIG Kolaborasi dengan Desainer Profesional
“Salah satunya adalah batik Wisucut yang terletak di sebelah kiri kita. Batik ini sudah berdiri dari tahun 1925 dan tahun kemarin adalah 100 tahun mereka berproduksi,” ujar Dave, Kamis (14/5/2026).
Namun setelah satu abad bertahan, rumah batik tersebut kini terancam berhenti.
“Sayangnya, sayangnya saya bilang, tidak akan ada penerusnya,” lanjutnya.
Dave menjelaskan persoalan regenerasi menjadi tantangan terbesar batik peranakan Tionghoa.
Banyak keluarga pembatik masih mempertahankan tradisi bahwa usaha batik hanya boleh diteruskan oleh keturunan dengan garis marga yang sama.
Akibatnya, ketika anak perempuan menikah dan mengikuti marga suami, usaha batik sering kali tidak bisa diwariskan.
Jumlah Pembatik Terus Menyusut
Menurut Dave, kondisi serupa terjadi di sejumlah sentra batik pesisir utara Jawa seperti Cirebon, Pekalongan, dan Lasem.
Di Cirebon, pembatik peranakan Tionghoa bahkan disebut tinggal satu orang.
“Yang batik Cirebon ini, hanya tinggal satu-satunya pembatik peranakan Tionghoa di Cirebon,” ujarnya.
Sementara di Pekalongan, jumlahnya tinggal dua rumah batik peranakan.
Sedangkan di Lasem, jumlah pembatik yang tersisa terus menyusut karena faktor usia dan minim regenerasi.
Baca juga: Dari Hobi Jadi Cuan, Perajin Batik Lasem Tembus Pasar Internasional dengan Omzet Rp 150 Juta
Dave mengungkapkan sebagian pembatik sudah lanjut usia dan diminta berhenti oleh keluarganya karena kondisi kesehatan.
Ada pula yang anak-anaknya memilih profesi lain dan tidak tertarik meneruskan usaha keluarga.
“Jadi tidak ada regenerasi,” kata Dave.
Batik Peranakan Punya Ciri Khas yang Tak Dimiliki Batik Lain
Dave mengatakan batik peranakan memiliki identitas visual yang berbeda dibanding batik tradisional lain di Indonesia.
Motifnya banyak menggunakan unsur budaya Tionghoa seperti bunga peoni, naga, burung hong, hingga warna-warna terang khas pesisir.
Menurut dia, simbol-simbol itu bukan sekadar ornamen, tetapi memiliki makna filosofis.
“Karena burung Hong adalah queen of the bird,” ujarnya.
Dalam budaya peranakan, burung hong melambangkan perempuan, sementara naga melambangkan laki-laki.
Karena itu, motif keduanya sering digunakan dalam kain bertema pernikahan.
Selain motif, teknik pengerjaan batik peranakan juga dikenal sangat rumit dan detail.
Beberapa pembatik menggunakan canting super kecil agar menghasilkan garis halus seperti jarum.
“Jadi untuk batik misucun itu menggunakan canting 0 dan setengah dari 0,” kata Dave.
Melalui pameran tersebut, Dave berharap masyarakat semakin mengenal batik peranakan dan ikut mendukung keberlangsungan para pembatik lokal.
Ia menilai pelestarian batik tidak cukup hanya dengan mengagumi hasil akhirnya, tetapi juga memahami perjuangan para pembatik yang menjaga tradisi tersebut tetap hidup hingga sekarang.
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.