Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli 

TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek tidak hanya menyasar pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja lokal dalam jumlah besar.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, dr. Sunarto menerangkan jumlah tersebut tersebar di seluruh Kecamatan se-Trenggalek. Dari total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah berjalan, sudah ada 2.994 tenaga kerja yang berasal dari warga lokal.

"Untuk jumlah pekerja total SPPG, tenaga kerja yang terserap sudah sampai 2.994 orang," ujar dr Sunarto, Jum'at (15/5/2026).

Sunarto menambahkan jumlah tersebut berasal dari 68 SPPG yang sudah berjalan di Kabupaten Trenggalek.

Baca juga: Pagar Nusa Trenggalek Siapkan Pemusatan Latihan Atlet Santri di Pondok Pesantren

Baru 19 SPPG Kantongi Sertifikat SLHS

Dari total itu, saat ini masih 19 SPPG sudah mendapatkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

"Untuk yang sudah memiliki SLHS ada 19 SPPG," akuinya.

Menurutnya, kendala utama dalam pengajuan SLHS masih berkaitan dengan pemenuhan persyaratan dasar yang harus dipenuhi masing-masing SPPG.

"Kendala awal lebih pada pemenuhan persyaratan dasar," jelasnya.

Diimbuhkannya, program MBG sebelumnya juga menggandeng sekitar 20 UMKM lokal sebagai mitra penyedia produk. Namun, jumlah tersebut kini mulai berkurang setelah muncul ketentuan baru terkait makanan basah.

"Dulu masih awal ada 20 UMKM, namun setelah ada ketentuan makanan basah banyak yang sudah tidak bisa bermitra,” ungkapnya.

Baca juga: SPPG Talangsuko Turen Malang Dibangun, Siap Layani Ribuan Penerima Manfaat

Penerima Manfaat Capai 174 Ribu Orang

Sunarto mengaku untuk proses monitoring, masih melakukan pemadanan koordinat terkait dugaan adanya SPPG yang berdiri di lahan LSD (Lahan Sawah Dilindungi).

"Kalau sekarang masih proses pemadanan koordinat," bebernya.

Selain itu, masih ada satu SPPG yang masih berstatus suspend, yakni SPPG Bendungan Srabah. Pemberhentian sementara ini dilandasi gegara proses pemenuhan sarana dan prasarana yang belum rampung.

"Masih ada satu yang disuspend, yaitu Bendungan Srabah. Kendalanya pemenuhan sarpras," imbuhnya.

Guna mencegah hal itu terjadi di lokasi lain, Satgas MBG bersama Badan Gizi Nasional (BGN) berupaya sekuat tenaga melakukan monitoring dan evaluasi berkala.

"Langkah kami melakukan monitoring dan pembinaan secara berkala agar seluruh persyaratan bisa dipenuhi," ujarnya.

Disinggung penerima manfaat, Sunarto mengaku penerima manfaat program MBG berasal dari dari siswa, guru, tenaga kependidikan.

Termasuk juga menyasar untuk kelompok 3B. Yaitu mulai balita, ibu hamil, serta ibu menyusui.

"Untuk penerima manfaat saat ini mencapai 174.922,"akuinya.

Selain memberikan manfaat gizi bagi masyarakat, program MBG juga dinilai mampu mendongkrak penyerapan tenaga kerja di daerah.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapan) Kabupaten Trenggalek, Imam Nurhadi menerangkan untuk dinas pertanian lebih pada produksi.

Akan tetapi untuk pemenuhan SPPG oleh penggilingan RMU Rice Milling Unit (RMU) yang menggunakan mesin atau fasilitas penggilingan padi modern yang kompak untuk mengubah gabah menjadi beras siap konsumsi dalam satu kali proses juga sudah ada.

"Ada RMU lokal itu juga ada seperti di Tugu SPPG. Kita sebagian sudah mengambil beras premium dari penggilingan lokal. Diusahakan menyediakan beras untuk keperluan SPPG," ujar Imam Nurhadi.

Menurutnya sudah beberapa penggilingan lokal yang sudah diambil untuk mensuplai SPPG. Jadi tidak melalui kelompok tani (Poktan) maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

"Tetapi lebih kepada penggilingan lokal di Trenggalek untuk penyediaan beras SPPG," tandasnya. 

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.