TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Siang di kawasan Pantai Muaro Lasak, Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, seorang pria lanjut usia tampak berdiri termenung sambil menghisap rokok di tepi pantai.

Wajahnya terlihat lelah, sesekali memandangi laut yang dulu menjadi tempatnya mencari nafkah.

Namanya Yunis Malin (65), seorang nelayan yang kini tak lagi bisa melaut setelah kapal miliknya hilang diterjang banjir bandang atau galodo pada November 2025 lalu.

Saat ditemui TribunPadang.com, Kamis (14/5/2026), Yunis tanpa ragu mulai menceritakan kisah pilu yang dialaminya.

Dulu, kapal itu menjadi satu-satunya harapan hidup bagi dirinya. Setiap hari ia pergi ke laut untuk menangkap ikan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun semuanya berubah setelah bencana datang.

Baca juga: PUPR Padang Perbaiki 16 Irigasi Rusak Juli 2026, Anggarkan Rp226 Miliar Demi Petani

"Kapal saya hilang, hanyut karena banjir bandang akhir tahun lalu. Satupun tidak ada yang saya temukan lagi dari kapal saya, padahal itu untuk mencari nafkah," ujarnya dengan suara lirih.

Sejak kehilangan kapal tersebut, Yunis mengaku sudah sekitar enam bulan tidak pernah lagi melaut. Ia juga tidak pernah diajak bekerja oleh pemilik kapal lain karena usianya yang mulai senja.

"Semenjak kapal saya hilang itu, saya tidak pernah melaut lagi. Orang yang punya kapal lain pun tidak ada yang mengajak, mungkin karena saya sudah tua, jadi orang takut mengajak saya," katanya.

Di usianya yang tak lagi muda, Yunis mengaku kebingungan harus meminta bantuan kepada siapa. Ia mengatakan tidak pernah sekolah dan tidak bisa membaca maupun menulis.

Kondisi itu membuatnya kesulitan mengurus bantuan ataupun melapor terkait musibah yang dialaminya.

Baca juga: PUPR Padang Perbaiki 16 Irigasi Rusak Juli 2026, Anggarkan Rp226 Miliar Demi Petani

"Kalau saya yang buat laporan tidak akan digubris, karena saya tidak masuk kelompok nelayan. Mau melapor pun saya tidak tahu ke mana dan bagaimana caranya. Saya tidak pernah sekolah, membaca dan menulis pun tidak bisa," tuturnya.

Ia mengaku baru sekitar dua bulan terakhir bergabung ke kelompok nelayan setelah diajak oleh rekannya. Namun hingga kini, belum ada bantuan yang diterimanya.

Kini, untuk bertahan hidup, Yunis hanya mengandalkan bantuan dari orang-orang di sekitarnya. Ia bercerita kehidupan nelayan pesisir sejak dulu memang penuh kesulitan.

"Kalau kita orang pesisir ini dulu-dulunya susah hidup, bahkan makan saja sulit. Kehidupan nelayan dulu cukup pedih," katanya.

Meski begitu, Yunis tetap memiliki keinginan untuk kembali berusaha agar tidak terus bergantung kepada orang lain.

Baca juga: Truk Rusak di Tunggua Sitinjau Lauik Padang Picu Macet Panjang, Kendaraan Mengular hingga Sore Ini

Ia mengaku masih memiliki sebuah becak yang mungkin bisa digunakan untuk berjualan. Namun keterbatasan modal membuat niat itu belum bisa diwujudkan.

"Kalau untuk niat berusaha saya ada. Saya punya becak, mungkin saya bisa berjualan, tapi modalnya tidak ada. Saya pun tidak tahu mau mengadu dan menyampaikan ke mana," ujarnya.

Saat ini Yunis tinggal bersama anaknya yang juga telah berkeluarga. Karena merasa sungkan, ia lebih sering berpindah-pindah di sekitar kawasan pantai.

"Kadang tidur di pondok, makan menunggu dikasih orang. Ketemu teman-teman kadang juga dibelikan makan dan rokok," katanya.

Di tengah keterbatasan yang ia alami, Yunis hanya berharap ada bantuan agar dirinya bisa kembali berusaha dan mencari nafkah sendiri.

Ia tidak ingin terus hidup bergantung kepada belas kasihan orang lain. (*)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.