TRIBUNBATAM.id, KARIMUN - Tengku Iskandi, seorang nelayan asal Kabupaten Karimun yang sempat terombang ambing selama empat hari di lautan hingga masuk ke perairan malaysia, menceritakan pengalamannya itu kepada Tribun.
Tengku Iskandi menceritakan bagaimana awalnya ia sampai terombang-ambing di laut hingga dibawa arus ke perairan Malaysia.
Tengku Iskandi menceritakan kronologi bagaimana ia sampai terombang ambing di laut hingga persediaan makanan habis hingga berhasil diselamatkan dan kembali ke rumah.
Ia juga menceritakan sempat minum air laut karena kehausan, namun justru bikin tenggorokan cepat kering.
Baca juga: Sempat Hilang Kontak di Laut, 2 ABK Kapal Nelayan Karimun Ditemukan Selamat di Johor
Berikut petikan wawancara eksklusifnya Tribun Batam dengan Tengku Iskandi di kediamannya hari Rabu 13 Mei 2026 :
TB [Tribun Batam] : Assalamualaikum Pak, Selamat malam, boleh perkenalkan diri?
TI [Tengku Iskandi] : Nama saya Tengku Iskandi
TB : Baik, boleh jelaskan cerita awal bagaimana kronologi bisa hanyut dan hilang kontak saat pergi menjaring?
TI : Ceritanya begini. Kami sekitar pukul 5 sore (7/5/2026) nak pergi menjaring ikan, kami tidak tahu kondisi mesin waktu itu, biasanya tak pernah rusak. Pukul 5 kami berangkat jaring, pukul 6 kami nyampak jaring. Sampai di tempat itu pukul 11 kami narik. Setelah selesai narik jaring itu kami nak melabuh jaring lagi.
Kami hidupkan lagi mesin, rupanya itu hidupnya tak lama, hanya 15 menit kemudian mati (gim) lagi. Kami coba juga lah usahakan, betulkan mesin tapi tak bisa, terus kami campak (turunkan) jangkar, tapi jangkar kami tak lekat (lengket) pula, hanyut.
Kami nak minta pertolongan, sementara kami tidak ada bawa hp. Kami berusaha minta bantuan kalau ada orang orang yang ada disitu.
Sementara ni bekal kami (yang dibawa) kan (untuk) jaring balik hari. Jadi buat pelaut itu bekal kami buat dua kali makan aja gitu. Kami juga ngecek air masih ada atau tidak, masih lebih atau tidak.
Kami berlabuh tu pagi, kami tengok air dah tinggal dikit, cuma bisa sekali masak nasi aja, siap makan tu air dah tak ada lagi. Kami dah cube lambai-lambai ke orang, tapi tak ada yang bantu.
Di hari kedua pun gitu, kami tak ada makan tak ada minum, berhanyut, hari ketiga juga tak ada makan, tak ada minum. Hari keempat juga gitu, kami beranyutkan, tak dapat minta tolong, tak ada yang bantu.
Dah sampai kami beranyut di perairan malaysia, hari tu di perbatasan, masih di laut nasional cuma dah jauh kebawah gitu di perairan Malaysia, adalah kapal satu (kapal) yang nolong kami nelayan dari Malaysia, kami minta tolong minta air dah tak tahan lagi.
Kami minta air sama orang tu, orang tu pun sedihlah dengar cerita kami. Kami kan dah empat hari tak makan tak minum, jadi dibantulah dikasi mie dikasi roti air. Jadi disitu lah kesempatan saya kasi nomor abang saya ke dia, minta tolong kasihkan informasi bahwa kami ni masih selamat dan minta tolong sampaikan jemput kami disini.
Pada jam 5 sore hari keempat tanggal 10 Mei 2026 sore orang ni memghubungi abang saya, dan dihari itu kami dijemput sama abang saya. Pas dah ketemu sama abang saya itu perasaan kami sudah lega dan merasa kami dah sampai dirumah.
Jadi setelah di jemput dah separuh jalan sekitar 4 jam perjalanan, kami tengok cuaca tak bagus. Saya dalam kondisi lemah ni saya disuruh balik dulu dengan cepat, dan abang saya jaga pompong yang rusak ini sambil menunggu jemputan lagi.
Saya dibawa balik langsung ke sini jam 3 subuh kami sampai sini sama Babinsa. Sampai sini saya langsung dibawa ke rumah sakit.
TB : Jadi selama empat hari itu Bapak tidak ada stok makanan, tak ada persediaan, seperti apa perasaan bapak saat itu?
TI : Saat itu kami berharap ada yang tolong kami gitu kan, tapi apa boleh buat lah, pertolongan tu tak ada. Ya kami pasrah aja lagi, kami cume bisa berharap aja ada pertolongan yang akan datang
TB : Selama 4 hari itu sembari menunggu pertolongan datang, keadaan cuaca di laut saat itu seperti apa?
TI : Kalau cuaca di hari pertama itu aja, hari pertama turun ribut (angin kencang), pas selesai kami narik jaring, turun angin itu, kami angkat mesin hidup langsung mati, itu kami serba salah itu, macam mana cara nak komunikasi, kami usaha juga pak perbaiki mesin tapi tak bisa.
TB : Berarti sudah ada usaha perbaiki mesin waktu itu?
TI : iya adalah, keadaan (angin) ribut tuh, kami ngolah mesin, angin kencang, hujan, dan itu kami itu (berada) di jalan kapal tu, jalan kapal tanker
TB : Apa hal yang paling ditakutkan ketika berada di jalur kapal tanker, saat masuk ke line kapal itu, perasaannya seperti apa?
TI : Kami takut tu, pas masuk jalan kapal (tanker) tu, yang namanya tanker ni kan kita pakai alat tangkap kecil pakai kapal kecil, kadang tak nampak, takut kita ditabrak dia kan, cuma kami tetaplah hidupkan lampu sebagai tanda ada pompong di bawah
TB : Saat kapal masuk ke line (jalur) kapal tanker itu, siang hari atau hari keberapa?
TI : Hari pertama kami sudah masuk di line kapal tanker, itu lah saya hidupkan mesin, (tapi) tak hidup hidup juga. Niat nak keluar sikit dari line itu tak bisa. Jadi di situ lah kami ikut arus dulu dan lepas dari line kapal (tanker) itu, kami campak jangkar.
TB : Setelah terombang ambing lalu diselamatkan itu, rasanya sudah lega ya Pak ?
TI : Perasaan tu dah selamat dah sampai ke rumah pas ada penjemputan itu, dapat aja kabar dari nelayan Malaysia tu bilang suruh kami tunggu di situ, ada penjemputan dari kampung di situ kami betul betul dah bahagia.
TB : Kemarin katanya kesehatannya sempat menurun ya Pak?
TI : Ye betul sudah tak mampu lagi berdiri, tapi saya paksa
TB : Ada usaha lain tak Pak, sembari menunggu bantuan datang seperti keadaan terpaksa minum air asin atau seperti apa gitu?
TI : Sempat satu kali saya minum air asin, tak tahan lagi (karena) haus, tapi dah minum air asin itu (malah) tambah haus lagi jadinya, tenggorokan tambah kering, jadi tak bisa minum air asin.
TB : Ketika sampai di Tanjung Balai Karimun langsung dibawa ke Rumah Sakit ye Pak, pihak rumah sakit bilang apa? disuruh apa?
TI : Rumah sakit bilang sebelumnya tu, mau dicek semuanya mau di rontgen atau apa, jadi pun saya usulkan saya mau istirahat di rumah, saya cakap saya lemah aja selama dua hari tak ada makan, magh saya kambuh, jadi dikasinya obat untuk itu, dan diperiksa kondisi badan dah boleh balek.
TB : Apakah ini kejadian pertama atau sebelumnya pernah mengalami kejadian serupa Pak ?
TI : Tak pernah, ini pertama kali
TB : Adanya kejadian ini, apakah ada rasa macam takut atau tetap mau melaut sebagai mata pencarian?
TI : Saya tetap melaut karena pengalaman di laut, ini saye jadikan pelajaran kedepannya saya harus memperhatikan semuanya sebelum berangkat
TB : Kalau boleh tau, Bapak melaut ini sudah berapa lama?
TI : Dari tamat SMP saya dah melaut
TB : Berarti bisa dikatakan puluham tahun ya pak, sekarang umur berapa ?
TI : Sekarang umur 35 tahun
TB : Berarti kurang lebih dah 20 tahun ya Pak
TI : iya
( tribunbatam.id/fairozzamani )
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.