TRIBUNSTYLE.COM - Riuh rendah suasana Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat 2026 di sebuah hotel di Pontianak menyisakan cerita pahit. Alih-alih berakhir dengan tepuk tangan meriah, ajang bergengsi ini justru diwarnai protes keras dari penonton yang merasa ada ketidakadilan dalam penilaian dewan juri.

Dua saksi mata sekaligus alumni SMAN 1 Pontianak angkatan 2026, Miranda (17) dan Karisma (18), mengungkapkan kekecewaan mereka atas jalannya perlombaan. Sebagai veteran yang pernah mewakili Kalimantan Barat hingga ke tingkat nasional di Senayan pada tahun 2025, keduanya merasa ada yang tidak beres dengan keputusan juri terhadap Grup C SMAN 1 Pontianak.

Kesaksian dari Bangku Penonton

Karisma menegaskan bahwa pandangan mereka bukanlah sekadar opini penonton awam. Pengalamannya bertanding di Jakarta memberinya perspektif tajam mengenai mekanisme lomba.

“Kami bukan orang awam dalam lomba ini. Tahun lalu kami juga mewakili provinsi ke Senayan Jakarta pada LCC 4 Pilar 2025. Jadi mekanisme lomba sudah banyak kami amati ditahun sebelumnya,” ujar Karisma.

Menurut Karisma dan Miranda, poin krusial terjadi saat jawaban Josepha Alexandra dari Grup C dianggap salah oleh juri dengan alasan suara tidak terdengar. Padahal, posisi Miranda yang jauh dari podium justru bisa mendengar jawaban tersebut dengan sangat artikulatif.

Miranda menceritakan bagaimana ia berusaha memperjuangkan keadilan di tengah panasnya suasana kompetisi. Ia bahkan membawa bukti digital demi meyakinkan juri.

“Saya sampai mengangkat tangan dan membawa rekaman dari YouTube untuk memperlihatkan bahwa jawaban itu terdengar jelas. Tapi tidak digubris,” ungkapnya.

Bahkan setelah SMAN 1 Pontianak dinyatakan sebagai runner-up atau juara kedua, Miranda mencoba melakukan mediasi, namun hasilnya nihil.

“Yang kami dapatkan hanya permohonan maaf dan tidak ada aksi nyata,” keluhnya.

Baca juga: Pelajaran Mahal di Panggung LCC MPR 2026 atas Ucapan MC Shindy, Sonny Tulung: Kemampuan Baca Situasi

Tiga Borok yang Disoroti

Setidaknya ada tiga poin utama yang menjadi kegelisahan para alumni ini:

  • Kompetensi dan Respon Juri: Juri dinilai menutup telinga terhadap klarifikasi, baik dari peserta di podium maupun penonton yang membawa bukti rekaman.
  • Sportivitas Antar-Regu: Ada gestur dari peserta lain yang dianggap memperkeruh suasana dengan memberi tanda "tidak ada jawaban" saat peserta Grup C sedang berbicara.
  • Integritas Lomba: Masalah ini bukan tentang trofi, melainkan tentang marwah perlombaan itu sendiri.

“Yang kami tuntut adalah keadilan dan integritas. Karena kalau integritas tidak dijaga, maka hasil pertandingan juga bisa salah dalam menentukan pemenang,” tegas Miranda.

Baca juga: Buntut Kisruh LCC Empat Pilar, Juri dan MC Resmi Digugat ke Pengadilan, Begini Tanggapan MPR RI

Pihak Sekolah Menuntut Transparansi

Senada dengan para alumni, Rio Pratama selaku guru pendamping dari SMAN 1 Kota Pontianak juga menyayangkan sikap penyelenggara. Baginya, berlindung di balik "hak prerogatif juri" atas sebuah keteledoran yang nyata adalah hal yang tidak bisa diterima.

"Pokoknya intinya, kami hanya meminta konfirmasi dan klarifikasi dari penyelenggara terkait situasi yang terjadi, mengingat ini menjadi kurang fair," katanya.

Melalui kanal media sosial sekolah, pihak SMAN 1 Pontianak menegaskan bahwa gerakan ini bukan untuk merusak nama baik lembaga penyelenggara, melainkan bentuk edukasi mengenai sportivitas.

"Bagi kami, kalah menang dalam lomba adalah hal biasa. Tentu itu tidak bisa dibenarkan, apalagi penyelenggaranya adalah lembaga negara," tutup Rio.

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.