TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Pengamat perkeretaapian, Joni Martinus menganalisa  wacana pemindahan gerbong perempuan ke tengah rangkaian.

Menurut Joni, wacana tersebut tidak relevan dan berpotensi menimbulkan masalah baru. 

“Usulan tersebut tidak efektif dan tidak menyentuh akar persoalan dalam keselamatan operasional kereta api. Justru bisa memicu persoalan lain,” kata Joni kepada Kompas.com, Kamis (30/4/2026). 

Berikut beberapa risikonya: 

1. Berpotensi dilintasi penumpang laki-laki 

Joni bilang, jika gerbong perempuan berada di tengah, penumpang laki-laki kemungkinan tetap akan melintas untuk berpindah ke gerbong lain. 

2. Timbulkan kebingungan posisi di peron 

Penumpang berpotensi kesulitan menentukan titik berhenti yang tepat untuk mengakses gerbong perempuan saat kereta datang. 

3. Picu penumpukan dan desakan 

Akses ke gerbong tengah berisiko menimbulkan penumpukan penumpang dan kondisi berdesakan yang lebih padat. 

Kondisi tersebut dinilai akan menyulitkan kelompok rentan, seperti ibu hamil, lansia, dan penumpang yang membawa anak kecil. 

Baca juga: Sosok 16 Korban Tewas Insiden Tabrakan KRL di Bekasi Timur, Profesinya Guru hingga Tenaga Kesehatan

Sebaliknya, Joni menilai posisi gerbong perempuan di bagian depan dan belakang sudah tepat, dengan sejumlah pertimbangan: 

1. Kemudahan akses 

Gerbong di ujung rangkaian lebih mudah dijangkau, terutama bagi perempuan, lansia, ibu hamil, dan penumpang dengan anak. 

2. Keamanan dan kenyamanan 

Memberikan ruang yang lebih aman dan nyaman dari potensi pelecehan atau tindak kriminal. 

3. Pengawasan lebih efektif 

Lokasi yang terpisah di ujung memudahkan petugas dalam melakukan pemantauan secara fokus. 

4. Mengurangi potensi berdesakan

Penumpang perempuan tidak perlu bercampur dengan penumpang laki-laki dalam kondisi kereta yang padat.

Sebelumnya diwartakan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, sempat mengusulkan agar gerbong khusus perempuan pada KRL ditempatkan di tengah rangkaian kereta. 

Usulan tersebut disampaikan setelah ia berdiskusi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI), menyusul insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam. 

Dalam peristiwa itu, KRL Commuter Line ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek. 

Sebagai informasi, gerbong khusus perempuan saat ini berada di bagian paling depan dan paling belakang rangkaian KRL Jabodetabek. 

Akibat kecelakaan tersebut, belasan penumpang perempuan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya mengalami luka-luka.

Namun belakangan pernyataan Arifah itu menuai banyak kontra dari publik.

Arifah akhirnya meminta maaf kepada khalayak atas usulannya tersebut.

Sumber: Kompas.com

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.