TRIBUNNEWS.COM - Seorang guru di SMAN 1 Purwakarta, Jawa Barat diacungi jari tengah oleh sejumlah siswanya.
Aksi tersebut tersebut direkam oleh para siswa hingga akhirnya viral di media sosial.
Peristiwa ini pun menjadi sorotan banyak pihak dan dianggap mencoreng dunia pendidikan.
Kasus ini mencerminkan tantangan pembinaan karakter siswa yang juga terjadi di berbagai daerah.
Setelah ditelusuri, guru yang diacungi jari tengah dan diolok-olok oleh sembilan siswa tersebut bernama Syamsiah atau dikenal dengan nama Bu Atun.
Bu Atun merupakan guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) di SMAN 1 Purwakarta.
Saat ditemui di sekolah, Senin (20/4/2026), Bu Atun mengaku sudah memaafkan para siswanya tersebut.
"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,"
"Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," ujar Bu Atun kepada TribunJabar.id, Senin (20/4/2026).
Ia juga merasa sedih, karena selama 23 tahun mengajar, baru pertama kali Bu Atun diperlakukan seperti itu oleh siswanya sendiri.
"Sedih itu manusiawi, tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya selamat dunia akhirat," ucapnya.
Baca juga: Duduk Perkara Siswa SMAN 1 Purwakarta Acungkan Jari Tengah ke Guru, Ini Kata Disdik Jabar
Bu Atun pun menegaskan, ada hal utama yang harus dikedepankan, yakni adab.
"Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter, tapi mungkin belum sepenuhnya sampai. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," katanya.
Ia pun menambahkan, tak akan melaporkan para siswanya.
Bahkan, Bu Atun ingin mengubah para anak didiknya tersebut untuk menjadi sosok yang berakhlak tinggi.
"Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat," katanya.
Aksi sembilan siswa yang mengolok-olok Bu Atun tersebut bermula saat para siswa di kelas mengerjakan tugas kelompok.
Awalnya, pembagian kelompok telah ditentukan.
Namun, ada perubahan urutan kelompok yang membuat sembilan siswa yang awalnya mendapat urutan kedua harus bergeser ke sesi terakhir.
"Kelompok ini akhirnya tampil di giliran terakhir. Selama pembelajaran berlangsung, mereka tetap terlihat biasa saja, bahkan sempat berfoto bersama guru," ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar, Purwanto, dikutip dari TribunJabar.id.
Saat jam pelajaran berakhir, ujarnya, sembilan siswa tersebut justru melakukan aksi tak pantas.
Mereka mengacungkan jari tengah dan perilaku melecehkan lainnya terhadap Bu Atun hingga akhirnya viral di media sosial.
Purwanto mengatakan, mereka melakukan hal tersebut secara sengaja karena diduga kesal telah diubah urutan presentasinya.
"Tindakan itu jelas disengaja, meskipun mungkin dipicu kekecewaan,"
"Tapi ini tetap tidak bisa dibenarkan," ucapnya.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Purwakarta, Sidik Tamsil mengatakan, pihaknya telah melakukan pemanggilan dan pembinaan terhadap seluruh siswa dalam satu kelas satu hari setelah aksi yang dilakukan 9 siswa tersebut.
Baca juga: Viral 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta Hina Guru, Dedi Mulyadi Minta Sekolah Beri Sanksi Kerja Sosial
"Kami kumpulkan satu kelas, kami dalami apa yang terjadi, dan kami lakukan treatment sesuai arahan dari Dinas Pendidikan dan Gubernur," ujarnya, dikutip dari TribunJabar.id.
Dari hasil pendalaman, sembilan siswa terbukti melakukan tindakan tidak pantas secara sengaja.
"Kami tegaskan, tidak semua siswa terlibat seperti pada video permintaan maaf siswa yang beredar,"
"Ada yang berinisiatif, tapi yang lain tidak. Kami pastikan 24 siswa lainnya tetap mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak terdampak stigma," kata Sidik.
Sanksi pun diberikan kepada sembilan siswa berupa kegiatan sosial mulai satu hingga tiga bulan.
"Kegiatannya berupa pembentukan karakter, seperti membersihkan lingkungan sekolah, tetapi mereka tetap mendapatkan hak pendidikan," katanya.
Selain itu, pihak sekolah juga mengambil langkah antisipasi, termasuk potensi perundungan terhadap siswa yang terlibat.
"Kami sudah lakukan pembinaan setelah apel, melibatkan wali kelas dan guru BK,"
"Kami minta semua pihak menenangkan situasi agar tidak terjadi bullying," ujarnya.
Selain itu, pihak sekolah juga akan melarang siswa menggunakan ponsel di lingkungan sekolah.
"Kami tidak melarang sepenuhnya, tapi akan membatasi. Saat masuk sekolah, HP akan dikumpulkan untuk menghindari penyalahgunaan," ucapnya.
Baca juga: Hukuman untuk 9 Siswa yang Ejek Guru Perempuan di Purwakarta, Dedi Mulyadi Usul Bersih-bersih Toilet
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJabar.id, Daenza Falevi)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.