TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana mendung tak mengurangi semangat para pekerja di dalam sebuah ruang produksi sederhana di kawasan Semarang Timur, Kota Semarang.

Di satu sudut meja, Wiwit (42) berdiri tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak cepat, nyaris tanpa jeda. 

Selembar kulit lumpia diambil dari tumpukan, diletakkan di meja, lalu diisi rebung berbumbu yang sudah dicampur udang. Dengan satu gerakan cekatan, dia menggulungnya hingga rapi membentuk lumpia mini. 

Satu gulungan selesai dalam hitungan sekitar 10 detik. Tanpa jeda, Wiwit langsung mengambil kulit berikutnya, mengulang proses yang sama, lagi dan lagi.

“Untuk bisa bikin lumpia mini ini, saya latihan sendiri. Awalnya nggak langsung bisa dalam waktu cepat, ya pelan-pelan dulu,” kata Wiwit, tanpa menghentikan pekerjaannya, ditemui Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.

Di hadapannya, bahan-bahan tersusun sederhana, baskom besar berisi isian, telur kocok sebagai perekat, potongan ayam dan udang, serta tumpukan kulit lumpia.

Dari sana, ratusan biji lumpia mini lahir setiap hari.

lumpia semarang mini
PRODUKSI LUMPIA - Aktivitas di sebuah rumah produksi lumpia mini di Jl Kanalsari Timur, Rejosari, Semarang Timur, Kota Semarang

Bahkan dalam sehari, produksi bisa mencapai hingga 500 bungkus, dengan satu bungkus berisi 10 lumpia mini. Namun di balik angka itu, terdapat konsekuensi fisik.

“Iya, badan rasanya pegal-pegal. Langsung minta pijat,” imbuh dia sambil berseloroh.

Cerita usaha itu bermula dari hal yang relatif sederhana.

Sang pemilik, Pradita Wulansari atau Dita, merintis usahanya sejak 2018 dari usaha keluarga. 

Saat itu, ibunya berjualan gorengan di pinggir jalan. 

Lumpia mini hanya menjadi jajanan pelengkap yang dititipkan ke penjual gilo-gilo, gerobak jajanan khas keliling yang biasa menjual aneka gorengan dan buah potong.

“Awalnya kami menitipkan ke gilo-gilo dan warung nasi kucing,” ungkap Dita.

Kali pertama menjalankan usaha, produknya belum memakai kemasan menarik, apalagi strategi pemasaran besar. Namun dari situ, Dita ingin lebih berkembang. Ia melihat adanya peluang kudapan yang populer sebagai oleh-oleh khas Semarang ini. 

Lantas, ia ingin membuat lumpianya memiliki merek sendiri.

Di awal merintis usaha, penjualan tak selalu ramai. Di tengah kondisi itu, Dita mulai mencoba hal baru, yakni pemasaran digital.

“Awalnya dari status Whatsapp, terus Facebook, Instagram,” katanya.

Langkah kecil itu menjadi titik balik, perlahan, pesanan mulai berdatangan.

Dari teman, lalu meluas ke jaringan yang lebih besar.

Dita menyadari, satu di antara kelemahan lumpia tradisional ada pada rebung atau bambu muda yang berbau menyengat.

Untuk mengatasinya, ia pun mulai berinovasi dengan memilih rebung yang lebih halus dan berkualitas.

“Tujuannya biar produk lumpia ini bisa diterima kalangan lebih luas,” ujarnya.

Perubahan itu terbukti berhasil. Produk yang sebelumnya hanya ditujukan untuk pasaran kaki lima, kini mulai naik kelas. (Reza Gustav)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.