Pertanyaan:

“Dokter, kita kan mengenal adanya vaksin influenza dan vaksin pneumonia, Dokter.

Apakah ini berpengaruh kepada asma dan juga PPOK”

(Pertanyaan dari jurnalis TribunHealth.com, dalam Healthy Talk “Sesak Napas Saat Aktivitas? Kenali Perbedaan Asma dan PPOK” pada Sabtu, 7 Maret 2026)

Jawaban Dokter Spesialis Paru RS Bung Karno Surakarta, dr. Indria Myrcia, Sp.P:

“Vaksin tidak mempengaruhi untuk asma PPOK secara mutlak.

Tapi kembali lagi tadi, kalau asma ada pencetus. Kalau PPOK itu biasa dengan adanya infeksi.

Nah, tidak menutup kemungkinan untuk mencegah infeksi yang berulang, sehingga PPOK tidak sering eksaserbasi, namanya serangan…

Mungkin vaksin untuk pneumonianya bagus, influenzanya juga bisa.

Tapi secara mutlak, vaksin ini penting untuk pasien PPOK, penting untuk pasien asma? Tidak ada keharusan ya.

Tapi untuk mencegah, kalau dia sudah PPOK yang gampang tereksaserbasi, memang sebaiknya ada vaksin pneumonia sama vaksin influenza.

Itu tidak ada salahnya digunakan pada pasien-pasien yang sudah susah terkontrol.

Tapi tidak harus mutlak.

Karena vaksin itu tidak menghindari PPOK.

Mencegah jangan terjadi sering eksaserbasi, PPOK-nya tetap.”

Baca juga: Paparan Polusi di Kota Besar Apakah Meningkatkan Risiko Asma dan PPOK?

Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Sekilas tentang asma dan PPOK

Sesak napas saat beraktivitas kerap dianggap sepele, padahal bisa menjadi tanda penyakit paru serius seperti asma atau Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Meski gejalanya mirip, dua kondisi ini punya perbedaan mendasar.

Usia dan pencetus

Asma umumnya muncul sejak usia anak-anak hingga dewasa, dipicu oleh faktor pencetus seperti cuaca dingin, alergi, ataupun emosi.

Penderitanya sering mengalami sesak disertai bunyi mengi (wheezing), terutama pada malam hari.

Sementara PPOK biasanya menyerang usia di atas 40 tahun dan erat kaitannya dengan paparan jangka panjang, seperti rokok, polusi, atau asap kimia.

Sesak pada PPOK muncul saat beraktivitas, bahkan yang ringan sekalipun, dan cenderung memburuk seiring waktu.

Respons pengobatan

Perbedaan lainnya terletak pada respons pengobatan.

Penderita asma umumnya cepat membaik setelah menggunakan inhaler bronkodilator, sedangkan PPOK membutuhkan waktu lebih lama dan pengobatan rutin karena kerusakan paru yang bersifat permanen (irreversibel).

Diagnosis

Untuk diagnosis pasti, dokter akan melakukan spirometri, pemeriksaan yang mengukur kapasitas dan aliran udara paru.

Dapat dikontrol

Yang terpenting, baik asma maupun PPOK dapat dikontrol.

Kuncinya adalah berhenti merokok, menghindari perokok pasif, menjaga pola hidup sehat dengan gizi seimbang dan olahraga teratur, serta rutin berobat.

Dengan deteksi dini dan penanganan tepat, penderita tetap bisa produktif tanpa mengurangi kualitas hidup.

(TribunHealth.com)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.