TRIBUN-TIMUR.COM - Harga produk berbahan plastik di Makassar mengalami kenaikan signifikan sejak akhir Maret 2026.

Pantauan di toko Makassar Plastik, Jl Andi Djemma, menunjukkan hampir seluruh jenis plastik mengalami kenaikan harga.

“Semua yang berbahan plastik naik,” tegas Nuriati, karyawan toko.

Kenaikan harga bervariasi, mulai dari 10 hingga 50 persen, tergantung jenis produk.

Beberapa jenis plastik yang banyak digunakan pelaku UMKM mengalami lonjakan cukup tinggi.

Kantong plastik tahan panas ukuran 400 gram, misalnya, naik dari Rp14.500 menjadi Rp24.000 setelah sempat berada di Rp21.000.

Kantong plastik ukuran kecil, umum digunakan pedagang bakso juga naik, dari Rp10.500 menjadi Rp12.500.

Kotak mika untuk kemasan makanan ikut mengalami kenaikan. Untuk ukuran 100 pcs, harga naik dari Rp17.000 menjadi Rp21.000.

Sementara kotak mika ukuran besar meningkat dari Rp35.000 menjadi Rp40.000.

Gelas cup yang banyak digunakan pelaku usaha minuman mengalami kenaikan cukup drastis, dari Rp8.000 menjadi Rp14.500 per 50 pcs.

Jenis thinwall, yang biasa digunakan untuk kemasan makanan, juga naik dari Rp28.000 menjadi Rp33.500 per 25 pcs ukuran 200 ml.

“Bahkan karung pun naik harganya,” ujar Nuriati.

Ia menyatakan kenaikan ini dipicu kelangkaan bahan baku, yang diduga berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.

“Susah bahan baku, itu yang kami tahu,” katanya.

Meski harga naik, jumlah pembeli disebut tidak mengalami penurunan signifikan.

“Masih sama, tidak ada perubahan,” katanya.

Cup Plastik

Kenaikan harga cup plastik mulai menekan pelaku usaha kafe di Makassar.

Biaya operasional naik seiring lonjakan harga kemasan.

Kondisi ini dirasakan oleh kafe Espoir Space di Jl Mapala Raya, Kecamatan Rappocini.

Owner Espoir Space, Akbar Sumitro, menyebut kenaikan harga terjadi dalam waktu singkat dengan angka signifikan.

“Sekarang kenaikan bisa sampai 100 persen. Sebelumnya harga cup sekitar Rp1.400 sampai Rp1.550 per pcs,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik di Makassar, Warga Mulai Tertekan Usai Lebaran

Lonjakan harga tersebut berdampak langsung pada biaya harian.

Penggunaan cup plastik dalam jumlah besar membuat pengeluaran meningkat.

“Pemakaian setiap hari cukup banyak, jadi saat harga naik, terasa sekali di biaya,” jelasnya.

Meski begitu, pihak kafe memilih menahan harga menu demi menjaga daya beli pelanggan.

“Kalau harga dinaikkan pasti berpengaruh ke konsumen. Jadi kami tahan, tapi dampaknya ke keuntungan,” katanya.

Akbar mengaku tidak semua pelaku usaha mampu bertahan. Sebagian memilih menaikkan harga jual untuk menutup biaya.

“Kami masih coba bertahan,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, kafe mulai mengurangi penggunaan plastik.

Salah satunya melalui program Tumbler Day dengan diskon bagi pelanggan yang membawa tumbler.

“Kami pernah kasih diskon 20 persen di akhir pekan,” ujarnya.

Namun, partisipasi pelanggan masih rendah.

Di luar program, pengguna tumbler hanya sekira 5 hingga 10 persen.

“Paling satu dua orang saja,” katanya.

Ia menilai kondisi ini bisa menjadi momentum mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Ke depan, jika harga terus naik, kafe akan menerapkan strategi subsidi silang sebelum menaikkan harga menu.

“Kalau semua bahan naik, kemungkinan penyesuaian harga sekira 5 sampai 15 persen,” ujarnya.

Penggunaan gelas kaca untuk pelanggan dine-in juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif. (*)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.