Bandung (ANTARA) - Terminal Leuwipanjang Bandung bersiap menghadapi perpindahan operasional sekaligus seluruh trayek bus antarkota dari Terminal Cicaheum yang akan berimbas pada lonjakan penumpang hingga bisa 12 ribu per hari di momen-momen libur.


Kepala Terminal Leuwipanjang Asep Hidayat menyatakan transisi besar-besaran ini diantisipasi dengan perombakan fasilitas layanan seperti pengadaan toilet, shower, loker, termasuk lokasi untuk pembangunan lounge khusus oleh sejumlah Perusahaan Otobus (PO) besar untuk kenyamanan penumpang mereka.


"Penumpang tidak hanya membutuhkan transportasi yang lancar, tetapi juga berbagai fasilitas penunjang termasuk ruang tunggu yang laik. Karena itu, sejumlah PO sudah mulai membangun lounge khusus agar penumpang dan kru mereka bisa beristirahat dengan lebih nyaman," kata Asep di Bandung, Sabtu.



Asep menjelaskan, kebijakan "satu pintu" operasional terminal di Bandung ini merupakan konsekuensi dari alih fungsi Terminal Cicaheum menjadi depo dan pusat layanan Bus Rapid Transit (BRT) mulai akhir masa angkutan Lebaran 2026.






Nama-nama besar PO seperti Budiman, Sugeng Rahayu, Sinar Jaya, Gunung Harta, Eka Mira, hingga Primajasa juga terlihat mulai memusatkan operasionalnya di Leuwipanjang dengan membuka perwakilan dan lounge mereka di dalam kawasan terminal.


Terkait dengan proyeksi konsentrasi penumpang yang akan naik signifikan dan dimungkinkan terjadi penumpukan terutama di musim-musim liburan, Asep mengatakan pihaknya mendorong dilakukannya digitalisasi layanan tiket.



Selain fasilitas modern, penataan jalur keberangkatan dan area parkir bus juga akan diperbaiki agar arus keluar-masuk kendaraan tetap terkendali.


Dia mengatakan meski modernisasi digenjot, aktivitas ekonomi warga lokal dipastikan tidak akan terpinggirkan.






"Kami ingin memastikan bahwa peralihan ini tidak merugikan pedagang. Akses yang melewati area pedagang tetap dipertahankan agar aktivitas ekonomi mereka tetap berjalan," tutur Asep.


Melalui langkah integrasi ini, Asep menyebut Terminal Leuwipanjang diproyeksikan menjadi pusat utama aktivitas bus antarkota di Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat dengan standar kenyamanan yang lebih tinggi bagi pemudik.