Jakarta (ANTARA) - Republik Indonesia dan Sao Tome dan Principe menegaskan komitmen untuk mempererat hubungan bilateral melalui penandatanganan Perjanjian Bebas Visa bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas.
Komitmen itu disampaikan pada pertemuan antara Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir dan Menteri Negara Urusan Luar Negeri, Kerja Sama, dan Komunitas Sao Tome dan Principe, Ilza Amado Vaz di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Organization of African, Caribbean, and Pacific States (KTT OACPS) ke-11 di Guinea Ekuatorial, Jumat.
Dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri Indonesia di Jakarta, Sabtu, Arrmanatha menyampaikan apresiasi atas kesamaan visi sebagai sesama negara kepulauan, dalam penguatan kerja sama kelautan dan tata kelola maritim.
Kesamaan tersebut, antara lain, juga tercermin dengan kehadiran Perdana Menteri Sao Tome dan Principe pada KTT Archipelagic and Island States (AIS) Forum di Bali, Indonesia pada 11 Oktober 2023 lalu.
Indonesia dan Sao Tome dan Principe juga sepakat untuk mendorong kerja sama yang lebih erat di tingkat bilateral. Fokus kerja sama meliputi penjajakan mekanisme konsultasi bilateral, peningkatan perdagangan dan investasi, serta penguatan kerja sama pembangunan.
Kedua pihak menegaskan pentingnya koordinasi dalam berbagai fora internasional guna mendorong tata kelola global yang lebih inklusif dan berkeadilan.
"Kami mengharapkan dukungan Sao Tome dan Principe terhadap pencalonan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030, serta dalam mendorong terwujudnya Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan ECOWAS," kata Arrmanatha.
Sebagai mitra di kawasan Afrika Barat, Sao Tome dan Principe memiliki peran penting sebagai salah satu sumber impor kakao Indonesia. Selain itu, peluang kerja sama juga terbuka luas di sektor energi, khususnya minyak dan gas, serta pengembangan manajemen pariwisata.