TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pagi baru saja merekah di Dusun Sekabuk, Desa Sekabuk, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah. Saat sebagian orang masih memulai aktivitasnya, Teresia (44) sudah lebih dulu menyiapkan kebutuhan rumah tangga sebelum berangkat ke sawah.
Bagi Teresia, sawah bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah ia menanam harapan untuk keluarga, sekaligus menjadi bagian dari perjuangan perempuan desa menjaga sumber pangan.
Perempuan yang tergabung dalam kelompok tani di desanya ini mengatakan, sebagian besar aktivitas pertanian di Sekabuk justru banyak dilakukan oleh perempuan.
“Kalau untuk menanam padi, mencabut rumput, sampai panen, banyak perempuan yang turun langsung ke sawah. Laki-laki biasanya membantu bagian menyemprot atau mengolah tanah dengan handtraktor,” ujarnya.
Proses bertani padi di Sekabuk dimulai dari membuka lahan. Sisa batang padi disemprot menggunakan herbisida, lalu seminggu kemudian tanah diolah menggunakan handtraktor untuk menggemburkan kembali lahan.
Setelah itu petani menabur benih padi untuk disemai. Bibit yang telah berumur sekitar dua minggu kemudian dicabut dan ditanam di lahan yang sudah diolah.
Perawatan tanaman menjadi tahapan penting. Seminggu setelah tanam, padi dipupuk menggunakan pupuk urea. Tak lama kemudian, hama ulat biasanya mulai muncul sehingga petani kembali melakukan penyemprotan.
Rumput liar juga menjadi tantangan tersendiri. Petani harus mencabut atau menyemprot rumput menggunakan herbisida yang aman bagi tanaman padi.
Baca juga: Warga Pontianak Pertanyakan Urgensi Kebijakan WFA 4 Hari Kerja
Saat padi berumur sekitar empat minggu, pemupukan kembali dilakukan menggunakan pupuk NPK agar tanaman dapat menghasilkan bulir padi dengan baik. Namun, setelah pemupukan biasanya hama kembali datang karena tanaman menjadi lebih subur.
“Kalau sudah dipupuk biasanya ulat datang lagi. Jadi harus disemprot lagi supaya tidak merusak padi,” kata Teresia.
Selain ulat, petani juga menghadapi hama tikus dan burung. Untuk tikus, petani biasanya menggunakan racun, sementara burung diusir dengan bunyi-bunyian atau penjagaan langsung di sawah.
Setelah melewati berbagai tahap perawatan, padi akhirnya siap dipanen. Di Desa Sekabuk, panen dilakukan dengan dua metode, yakni secara tradisional menggunakan sabit maupun menggunakan mesin pertanian modern.
“Sekarang sudah hampir seimbang, sekitar 50:50 antara panen manual dan mesin,” jelasnya.
Usai panen, pekerjaan belum selesai. Gabah harus dikeringkan sebelum diolah menjadi beras. Namun hingga kini petani di Sekabuk masih mengandalkan panas matahari.
Ketergantungan pada cuaca sering menjadi kendala. Jika hujan turun atau cuaca buruk, proses pengeringan menjadi lebih lama dan dapat mempengaruhi kualitas beras.
“Kalau pengeringan lama, warna beras bisa kusam dan tidak putih,” kata Teresia.
Selain bertani, Teresia juga aktif mendorong perempuan di desanya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan desa. Baginya, perempuan memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Saya berpikir kalau kita bisa menjadi pendukung dan mengajak orang berbuat baik, maka tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia perempuan supaya kelompok kita bisa maju dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan desa dapat dimulai dari kesejahteraan keluarga masing-masing.
“Kalau kita bisa mensejahterakan diri sendiri, desa juga akan merasakan manfaatnya,” katanya.
Di sela aktivitasnya, Teresia tetap menjalankan peran sebagai ibu. Sebelum berangkat ke sawah sekitar pukul 07.00 hingga 10.00 pagi, ia selalu menyiapkan makanan untuk suami dan dua anaknya.
“Walaupun mereka sudah mandiri, saya tetap menyiapkan yang penting untuk mereka,” ujarnya sambil tersenyum.
Mengajak masyarakat, terutama perempuan desa, untuk aktif dalam kegiatan bersama bukan hal mudah. Semangat yang besar di awal sering kali perlahan memudar.
“Kadang di awal semangat, tapi di tengah jalan kendor. Jadwal yang sudah dibuat akhirnya tidak berjalan,” katanya.
Meski begitu, Teresia tetap berusaha mendampingi perempuan di desanya melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat.
“Saya bahagia kalau bisa mendampingi ibu-ibu di desa melakukan kegiatan,” ucapnya.
Selain padi, sebagian masyarakat Desa Sekabuk juga memiliki kebun kelapa sawit. Saat ini semakin banyak pihak yang tertarik berinvestasi sawit di desa tersebut.
Menurut Teresia, setiap keluarga biasanya memiliki lahan sendiri untuk padi maupun sawit.
“Kalau lahan pribadi dikerjakan sendiri itu bagus, karena hasilnya untuk keluarga. Tapi kalau dijual ke investor juga ada sisi positif dan negatif,” ujarnya.
Di satu sisi, investasi bisa membuka lapangan pekerjaan. Namun di sisi lain, lahan masyarakat bisa berpindah kepemilikan.
“Itu kembali lagi ke kesepakatan pemilik tanah,” katanya.
Teresia sendiri mengelola lahan pertanian dan kebun sawit miliknya. Dari total sekitar 13 hektare lahan yang ia kelola, penghasilannya bisa mencapai sekitar Rp20 juta per bulan secara kotor.
Meski hasil panen cukup baik, petani tetap menghadapi persoalan klasik yakni harga gabah yang tidak stabil.
Biasanya hasil panen dijual ke penampungan atau pembeli lokal. Namun ketika permintaan menurun, harga gabah bisa turun drastis.
“Kalau pembeli sedikit seperti sekarang, harga jadi murah. Itu yang membuat petani kadang rugi,” ujarnya.
Bagi Teresia, keterlibatan perempuan juga penting dalam menjaga lingkungan desa. Ia percaya kesadaran lingkungan harus dimulai dari keluarga.
“Perempuan bisa mengajak anak dan keluarga menjaga lingkungan supaya tidak rusak. Kalau lingkungan terjaga, usaha kita juga bisa bertahan,” katanya.
Kepala Dusun Sekabuk, Izhar, mengakui bahwa perempuan memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat desa.
Menurutnya, perubahan sistem pertanian dalam beberapa tahun terakhir membuat petani semakin bergantung pada mesin dan bahan kimia.
“Kalau pertanian modern sekarang memang banyak menggunakan mesin dan bahan kimia. Dulu pertanian lebih tradisional dan memanfaatkan bahan alami dari hutan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa perempuan menjadi pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
“Mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga. Banyak waktu mereka dihabiskan di ladang sejak pagi sampai sore,” ujarnya.
Sebelumnya, riset Feminist Participatory Action Research (FPAR) dilakukan di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah pada 13 Maret 2026.
Penelitian bertema “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” ini difasilitasi oleh Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) dengan dukungan organisasi masyarakat sipil Gemawan.
Perwakilan FAMM Indonesia Kalimantan Barat, Caroline, menjelaskan bahwa pendekatan FPAR menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam penelitian.
“Perempuan diajak merefleksikan pengalaman mereka dan mengenali persoalan yang dihadapi. Dari situ terlihat bahwa perempuan sebenarnya memiliki pengetahuan dan kekuatan besar untuk memperjuangkan kehidupan mereka,” pungkasnya. (*)
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.