TRIBUN-MEDAN.COM - Kasus pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP di Sikka, STN (14) alias Noni, masih bergulir hingga saat ini, Jumat (20/3/2026).
Tiga tersangka yang diduga pelaku sudah diamankan, namun keluarga korban menilai proses hukum belum tuntas karena ada barang bukti yang hilang dan salah satu pelaku sempat kabur dari pengawasan polisi.
Kronologi Singkat
20 Februari 2026:
23 Februari 2026:
Akhir Februari 2026:
Maret 2026:
Perkembangan Terbaru:
Luka Keluarga, Tuntutan Keadilan, dan Cermin Sosial
Sebagaimana dilaporkan Tribunflores.com, kasus kematian STN alias Noni, siswi kelas VIII SMP di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih menjadi sorotan.
Remaja berusia 14 tahun yang akrab disapa Noni itu ditemukan tewas di Kali Watuwogat pada Senin, 23 Februari 2026.
Awalnya, Noni dilaporkan hilang sejak Jumat, 20 Februari, ketika ia pergi mengambil gitar di rumah seorang kakak kelas, FRG. Di rumah tersebut terjadi perselisihan yang berujung tragis.
Menurut keterangan polisi, korban menolak tindakan tidak pantas yang diduga dilakukan oleh FRG dan mengancam akan melaporkannya.
Ketegangan meningkat, telepon genggam korban dirampas, dan kontak fisik terjadi.
Dalam kondisi emosi, FRG mengambil parang dan menyerang Noni hingga meninggal dunia.
Setelah kejadian, jasad korban sempat disembunyikan di belakang rumah dengan daun talas dan bambu sebelum akhirnya ditemukan.
FRG kemudian melarikan diri ke Kabupaten Ende, namun berhasil diamankan.
Polisi menetapkan FRG sebagai tersangka dengan jeratan pasal berat, meski proses hukum tetap mengikuti ketentuan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) karena pelaku masih berstatus anak.
Luka Keluarga
Bagi keluarga, kehilangan Noni adalah pukulan yang tak terbayangkan.
Echo, kakak kandung sekaligus sosok yang paling dekat dengan Noni, mengungkapkan betapa adiknya adalah cahaya dalam keluarga.
Dari Echo, Noni belajar bermain gitar. Gitar yang menjadi barang bukti kasus ini adalah hadiah ulang tahun dari Echo, dibeli dengan gaji pertamanya.
“Saya sangat menyesal seumur hidup. Kalau dulu saya tidak pernah mengajar Noni gitar, tidak pernah membeli gitar, mungkin sekarang tidak begini. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Hanya ada penyesalan. Kami hanya ingin keadilan yang seadil-adilnya,” ungkap Echo dengan menahan tangis.
Kenangan terakhir yang ia simpan adalah video WhatsApp dari Noni yang memainkan lagu favoritnya dengan gitar. Itu menjadi petikan terakhir yang ia dengar sebelum adiknya hilang.
Keluarga Tuntutan Keadilan
Keluarga menegaskan harapan agar aparat penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku.
“Kami tidak menuntut Noni hidup kembali. Kami hanya ingin para pelaku dihukum sesuai perbuatan keji terhadap adik saya,” tegas Echo.
Meski menyadari bahwa negara ini berlandaskan hukum, keluarga tetap berharap proses peradilan berjalan transparan dan tuntas.
Bagi mereka, keadilan adalah satu-satunya jalan untuk sedikit meredakan luka mendalam.
Kehilangan yang Tak Tergantikan
Noni dikenal sebagai sosok yang ceria, selalu menyapa kakaknya saat pulang dan pergi kerja.
Rumah kini terasa kosong tanpa kehadirannya.
Echo, sebagai anak pertama, berusaha tetap kuat demi ayah dan ibu.
“Kalau saya lemah, mereka juga ikut terpukul. Jadi saya harus menguatkan mama dan bapak,” katanya.
Kehilangan ini bukan hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga kehilangan harapan, tawa, dan kehangatan yang selama ini mengisi rumah sederhana mereka.
Kasus ini bukan hanya soal penegakan hukuman, tetapi juga soal keadilan. Agar tragedi begini tidak terulang.
Bagi masyarakat Sikka, Noni adalah simbol betapa berharganya setiap anak, betapa rapuhnya kehidupan, dan betapa pentingnya sistem hukum yang berpihak pada korban.
Kenangan tentang Noni akan selalu hidup dalam keluarga yang mencintainya. Dan bagi masyarakat, kisah ini adalah pengingat bahwa melindungi anak-anak adalah tanggung jawab bersama.
(*/Tribun-medan.com)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.