Meski ada penyesuaian, mahantam menjadi bukti bahwa tradisi ini tidak lagi sekadar praktik patungan, tetapi berubah menjadi simbol kepedulian dan keberpihakan terhadap mereka yang paling membutuhkan.

Palembayan, Agam (ANTARA) - Di hamparan kebun kelapa sawit Palembayan, Kabupaten Agam, suasana pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa warga tampak tekun menimbang potongan daging sapi, memastikan setiap bagian memiliki berat yang sama.


Tak jauh dari sana, sekelompok orang sibuk menyusun daging-daging tersebut, menjajarkannya dengan rapi di atas terpal yang terhampar di atas tanah. Di sisi terpal, noda darah yang masih basah membekas di permukaan tanah, penanda bahwa prosesi penyembelihan sapi baru saja usai dilakukan di lokasi tersebut.


Sementara itu, beberapa warga berdiri melingkar mengelilingi terpal, mata mereka tertuju pada daging dengan tatapan penuh harap. Terpancar jelas di wajah-wajah mereka sebuah kesabaran, meski tetap diselingi oleh gejolak rasa tak sabar untuk segera menerima bagian mereka.


Satu per satu nama dipanggil oleh panitia. Begitu nama-nama disebut, masing-masing warga segera maju untuk mengambil haknya. Setiap penerima mendapatkan jatah daging sapi seberat total 5 kilogram, yang rincianya terdiri dari 2,8 kilogram daging murni dan sisanya berupa bagian lain dari sapi. Seluruh pembagian itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik atau karung beras yang telah dibawa sendiri oleh warga dari rumah.


Momen sederhana ini menjadi gambaran nyata bagaimana tradisi mahantam dijalankan. Tradisi yang tidak sekedar menjadi rutinitass tahunan, tetapi pertanda bahwa Lebaran sudah sangat dekat. Di beberapa daerah lain di Sumatera Barat, masyarakat menyebutnya dengan barantam.






Secara historis, mahantam merupakan bentuk gotong royong ekonomi yang sederhana tapi efektif. Warga yang ingin berpartisipasi akan membayar sejumlah uang dalam kurun waktu tertentu, biasanya dimulai tak lama setelah Lebaran tahun lalu selesai.


Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli sapi. Menjelang hari raya, biasanya dua hari sebelum Lebaran, sapi tersebut disembelih, dan dagingnya dibagikan secara merata kepada seluruh peserta.


Dalam praktiknya, tradisi ini bukan hanya soal distribusi daging, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial, membangun solidaritas, dan memastikan bahwa setiap keluarga dapat merasakan kebahagiaan Lebaran.


Tradisi yang telah lama menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat setempat ini. tahun ini hadir dengan wajah yang berbeda. Suasana yang seharusnya penuh sukacita, kini diwarnai oleh duka mendalam akibat bencana. Namun di tengah kepiluan itu, harapan tetap dijaga bersama.







Bencana banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Agam pada akhir November 2025 lalu, memang membawa dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat. Banyak warga kehilangan harta benda, bahkan tempat tinggal.


Sebanyak 165 orang meninggal dunia. dengan korban terbanyak berasal dari Palembayan yang jumlahnya 136 orang.


Dalam kondisi seperti ini, tradisi mahantam yang biasanya berjalan lancar harus beradaptasi dengan realitas baru.


Di salah satu kawasan terdampak banjir, Padang Sibabaju, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupatan Agam, warga tetap berupaya mempertahankan pelaksanaan tradisi mahantam dengan segala keterbatasan.


Dua ekor sapi berhasil disembelih, bukan hanya sebagai simbol keberlanjutan tradisi, tetapi juga sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama korban bencana. Dagingnya dibagikan kepada warga yang telah berpartisipasi, sekaligus menjadi penguat moral di tengah situasi sulit.


Joni Masryal, ketua kelompok mahantam setempat, mengungkapkan bahwa jumlah peserta pada tahun kedelapan pelaksanaan mengalami penurunan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya jumlah peserta rata-rata mencapai 75 orang, tahun ini hanya tercatat sebanyak 66 orang.






Penurunan tersebut, kata dia, tidak terlepas dari dampak bencana yang memengaruhi kondisi ekonomi dan kesiapan warga untuk berpartisipasi.


“Tahun ini mundur 10 orang, memang bencana ini korban terdampak. Gara-gara bencana itu, orang-orang itu yang banyak mengambil nomor. Jadi tidak sempat, berkurang nomor karena bencana itu. Memang efeknya ada,” katanya.


Joni menjelaskan, peserta tradisi mahantam ini tidak hanya berasal dari masyarakat di kampung setempat, tetapi juga terbuka bagi masyarakat luar yang ingin bergabung, dengan syarat mengikuti ketentuan yang telah disepakati bersama.


Mekanisme yang dimaksud adalah peserta harus membayar biaya awal Rp300 ribu, kemudian melanjutkan dengan iuran bulanan sebesar Rp20 ribu per bulan. Sehingga total biaya yang dibayarkan adalah Rp540 ribu.


Peserta pun merasa terbantu akan kehadiran tradisi mahantam, mengamankan stok daging yang akan diolah menjadi rendang, sajian wajib di hari pertama Lebaran bagi masyarakat Palembayan.






“Anak delapan, cucu 13, tapi daging untuk saya. Anak cucu sendiri-sendiri membuat rendang, tapi kalau tiba anak cucu yang jauh, daging bisa dimakan bersama-sama,” ucap Nursana, warga Padang Sibabaju yang telah mengikuti tradisi mahantam selama tiga tahun terakhir, setelah sebelumnya berhenti.




Mahantam di huntara


Berbeda dengan kondisi di Padang Sibabaju, situasi di Hunian Sementara (Huntara) Kayu Pasak justru menghadirkan dinamika tersendiri. Di lokasi yang berjarak sekitar dua kilometer dari Padang Sibabaju ini, kelangsungan tradisi mahantam sempat terancam gagal dilaksanakan.


Keterbatasan ekonomi para penghuni huntara membuat skema patungan seperti biasanya menjadi sulit diwujudkan. Sebagian besar warga masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar pascabencana, sehingga kontribusi finansial untuk tradisi menjadi beban tambahan.


Namun, di tengah kekhawatiran tersebut, muncul inisiatif yang patut diapresiasi. Wali Jorong Kayu Pasak, Nofril Harman, mengambil langkah strategis dengan mengalihkan bantuan dana yang tersedia untuk membeli sapi.


Keputusan ini tidak hanya menyelamatkan tradisi mahantam dari ancaman vakum, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi warga huntara.


Daging sapi yang diperoleh kemudian dibagikan kepada seluruh penghuni, memastikan bahwa mereka tetap dapat merasakan kebahagiaan Lebaran meskipun dalam keterbatasan.


Meski dilaksanakan berbeda, maknanya tetap sama. Bagi warga, keberadaan daging saat Lebaran bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting dari tradisi yang tidak boleh hilang.


“Di sini, yang dipikirkan saat hari raya itu tiga, baju Lebaran, kue, dan daging. Walaupun keadaan susah, tetap harus ada daging. Sajian hari pertama harus daging,” tambahnya


Meski ada penyesuaian, mahantam menjadi bukti bahwa tradisi ini tidak lagi sekadar praktik patungan, tetapi berubah menjadi simbol kepedulian dan keberpihakan terhadap mereka yang paling membutuhkan.


Lebaran tahun ini mungkin terasa berbeda bagi banyak warga di Agam. Namun, melalui mahantam, mereka menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya tentang mempertahankan kebiasaan lama, tetapi juga tentang menemukan cara baru untuk tetap bersama. Di situlah, makna sejati dari perayaan itu berada.