Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Di tengah riuh arus mudik, di antara koper yang bertumpuk dan penumpang yang hilir mudik, Nurmainta memilih duduk tenang, dengan laptop terbuka di pangkuannya.

Pemudik yang berprofesi sebagai dosen itu, terlihat menghadap ke layar laptopnya, sembari duduk di satu sudut di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, Selasa (17/3/2026).

Dosen di satu universitas di Provinsi Banten yang tertangkap kamera sedang serius bekerja di area tunggu keberangkatan.

Bagi Nurmainta, mudik bukan berarti lepas tangan dari tanggung jawab pekerjaan. Di tengah masa persiapan pulang kampung, ia memilih untuk tetap produktif guna memastikan liburannya nanti benar-benar bebas dari beban tugas.

Saat ditemui, Nurmainta menjelaskan bahwa statusnya saat ini sebenarnya masih dalam masa Work From Home (WFH).

Baca juga: Hadapi Puncak Mudik di Pelabuhan Bakauheni, ASDP Siapkan 57 Kapal dan Skema Khusus

Sebagai seorang tenaga pendidik, ia sedang menyelesaikan laporan kegiatan kerja sama internasional antara universitasnya dengan institusi di Arab Saudi.

"Hari ini sebenarnya masih masa WFH. Kebetulan saya masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan yang berkaitan dengan kerjasama internasional tersebut. Tugas ini harus segera dikirimkan ke sana," ujar Nurmainta sambil sesekali membenarkan posisi kacamatanya.

Ia menambahkan bahwa motivasi utamanya menyempatkan diri menyelesaikan pekerjaan tersebut sembari melaksanakan mudik lebaran adalah agar tidak ada "utang" pekerjaan saat sudah sampai di kampung halaman.

"Saya selesaikan yang belum selesai hari ini, supaya besok-besok sudah tidak punya tanggungan lagi. Jadi bisa benar-benar fokus berkumpul dengan keluarga," tambahnya.

Nurmainta berencana mudik dari Provinsi Banten menuju Provinsi Lampung bersama suami dan kedua anaknya.

Ia memilih menggunakan moda transportasi umum berupa bus dan kapal feri.

Meski memiliki kendaraan pribadi, ia mengaku lebih nyaman menggunakan angkutan umum untuk perjalanan jarak jauh.

"Kalau alasan memilih Bus karena lebih cepat dan praktis tanpa harus lelah menyetir sendiri," kata dia.

Ia merasa arus mudik tahun ini cukup lancar karena ia memilih berangkat tepat setelah jam kantor usai, menghindari puncak kepadatan yang diprediksi terjadi keesokan harinya.

Kisah Nurmainta menjadi potret nyata bagaimana teknologi memungkinkan fleksibilitas kerja bagi para pemudik.

Meski harus "mencuri" waktu di sela perjalanan, bagi mereka, ketenangan saat merayakan Idul Fitri bersama keluarga adalah tujuan utama yang layak diperjuangkan.

"Alhamdulillah lancar. Mungkin karena kami berangkatnya pas pulang kerja ya, jadi belum terlalu ramai seperti bayangan orang-orang tentang puncak mudik besok," pungkasnya.

 (TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.