Kabupaten Agam (ANTARA) - Penyintas bencana di hunian sementara (huntara) Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menerima daging sapi dari tradisi “mahantam” jelang Idul Fitri.
Kepala Jorong Kayu Pasak Nofril Harman yang ditemui ANTARA di huntara pada Selasa malam menyampaikan bahwa “mahantam” merupakan tradisi mengumpulkan uang untuk membeli sapi atau kerbau untuk disembelih jelang Lebaran Idul Fitri.
Namun, dikarenakan kondisi perekonomian warga masih sulit pascabencana, tradisi “mahantam” terancam tidak bisa terlaksana. Akan tetapi, warga Jorong Kayu Pasak mendapat bantuan pendanaan untuk menjalankan tradisi itu dari perusahaan swasta.
Sapi tersebut telah disembelih pada Selasa pagi dan langsung dibagikan kepada seluruh penghuni huntara yang berjumlah 117 kepala keluarga. Dengan berat sapi 115 kilogram, masing-masing warga mendapat hampir satu kilogram yang terdiri atas setengah kilo daging dan setengah kilo lagi merupakan bagian sapi lainnya.
“Dari Bakrie (grup), diberikan uang. Dapat tiga sapi, berat yang tadi 115 kilo, rencana dua akan dibagikan ke Nagari Maninjau, karena ada tiga sapi,” katanya.
Nofril menjelaskan pada tradisi “mahantam” biasanya daging sapi langsung dimasak menjadi rendang sebelum dibagikan kepada warga. Tetapi dengan kondisi sekarang, daging langsung dibagikan ke warga penghuni huntara untuk diolah masing-masing. Hanya bagian perut sapi yang diolah menjadi gulai.
Ia turut menambahkan bahwa daging memang menjadi salah satu hidangan wajib saat Lebaran, dan sudah lama menjadi tradisi yang senantiasa dijalankan setiap tahun.
“Di sini hari raya itu yang dipikirkan tiga, baju untuk Lebaran, kue, dan daging. Walaupun keadaan susah, tetap harus ada daging, meski ga akan habis, sajian hari pertama hari raya harus daging,” jelasnya.
Salah satu warga penghuni huntara Kayu Pasak, Evi, menjelaskan bahwa dirinya selalu menjalankan tradisi “mahantam”, dan ia pun bersyukur bisa tetap menjalankannya di huntara meski dengan keadaan yang berbeda.
Evi akan memasak daging tersebut menjadi rendang, sebagaimana sajian asli dari tradisi "mahantam"
“Pokoknya tradisi masih jalan, meski keadaan seperti ini, tentu kita harus menerima, yang penting keadaan pulih. Kalau ada huntap (hunian tetap), bisa lanjut tradisi,” kata Evi.
Baca juga: Pengendara manfaatkan jalur Malalak Agam meski akses masih terbatas