TRIBUN-MEDAN.com - Seorang wanita berlutut di hadapan suaminya dan meminta cerai setelah menemukan bukti transfer sebesar Rp322 juta yang dikirim tanpa sepengetahuannya.
Uang tersebut ditransfer sang suami kepada orang tuanya di kampung halaman untuk membangun kembali rumah keluarga menjelang pernikahan adik laki-lakinya.
Dikutip dari Eva.vn, Minggu (1/3/2026), kisah ini bermula dari perjalanan rumah tangga pasangan yang telah menikah lebih dari satu dekade. Keduanya saling mengenal sejak masa kuliah.
Saat itu, hubungan mereka terjalin sederhana, berlandaskan ketulusan dan semangat untuk maju bersama. Namun ketika memutuskan menikah, mereka menghadapi penolakan dari kedua belah pihak keluarga.
Sang suami berasal dari keluarga petani di daerah pedesaan wilayah tengah.
Orangtuanya bekerja di sawah, dan ia memiliki seorang adik laki-laki yang saat itu masih bersekolah.
Sementara sang istri tumbuh di kota dalam keluarga pegawai negeri dengan kehidupan yang relatif stabil.
Perbedaan latar belakang ekonomi menjadi alasan utama penolakan.
Meski demikian, keduanya tetap melangsungkan pernikahan secara sederhana tanpa pesta besar. Setelah menikah, suami mendapat pekerjaan di perusahaan swasta berkat rekomendasi kenalan dari pihak keluarga istri.
Pada awal bekerja, kondisi ekonomi mereka belum mapan.
Sang suami kerap pulang larut dalam keadaan lelah, sementara istri memberikan dukungan penuh.
Tiga tahun kemudian, pasangan ini berhasil membeli apartemen dengan sistem cicilan. Di tahun yang sama, mereka dikaruniai seorang putra. Kondisi keuangan keluarga perlahan membaik seiring meningkatnya karier suami.
Ketika adik suami diterima di perguruan tinggi di Hanoi, pasangan tersebut sepakat memberikan dukungan finansial.
Setiap bulan mereka mengirimkan uang biaya hidup dan membantu membayar uang kuliah.
Sang istri mengaku sempat merasa berat karena kebutuhan rumah tangga juga meningkat, terutama setelah memiliki anak.
Namun ia menerima keputusan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab suami terhadap keluarga kandungnya.
Setelah lebih dari 10 tahun bekerja, penghasilan suami disebut mencapai sekitar 80 VND atau sekitar Rp51 juta per bulan.
Istri menjalankan usaha kecil secara daring dari rumah, sambil mengurus anak dan kebutuhan rumah tangga. Kehidupan mereka dinilai cukup, meski tidak berlebihan.
Persoalan mulai muncul ketika anak mereka masuk kelas 1 sekolah dasar. Jarak rumah ke sekolah sekitar lima kilometer, sehingga istri mengusulkan pembelian mobil untuk mempermudah mobilitas.
Namun usulan tersebut ditunda oleh suami dengan alasan belum diperlukan saat ini.
Beberapa waktu kemudian, saat merapikan tas sekolah anak, sang istri menemukan bukti transfer bank sebesar Rp500 VND atau sekitar Rp 322 juta yang terselip di buku pelajaran.
Penerima transfer tercatat atas nama ayah mertua di kampung halaman.
Ia terkejut mengetahui jumlah tersebut dan mengonfirmasi kepada suaminya pada malam hari.
Suami mengakui telah mengirim uang tersebut untuk membangun kembali rumah orang tuanya yang rusak, mengingat adiknya akan segera menikah.
Menurut penuturan istri, keputusan itu diambil tanpa diskusi sebelumnya.
Ia mempertanyakan alasan tidak adanya komunikasi terkait pengeluaran dalam jumlah besar tersebut.
Suami menjawab bahwa sebagai kakak, ia merasa bertanggung jawab membantu adiknya, terutama karena selama ini mereka juga mendukung biaya pendidikan sang adik.
Perbedaan pandangan pun memicu pertengkaran.
Istri menilai keputusan sepihak tersebut mengabaikan kepentingan keluarga inti mereka, termasuk masa depan anak.
Sementara suami menegaskan bahwa ia memahami cara mengelola penghasilannya.
Pernyataan itu, menurut istri, melukai perasaannya karena selama bertahun-tahun ia berperan mengurus rumah tangga dan anak agar suami dapat fokus bekerja.
Ia menilai persoalan utama bukan semata-mata uang, melainkan rasa dihargai dalam pengambilan keputusan penting.
Ia juga mengungkap kekhawatiran bahwa bantuan finansial kepada keluarga besar akan terus berlanjut di masa depan tanpa batas yang jelas.
Kekhawatiran tersebut membuatnya mempertanyakan prioritas dalam rumah tangga mereka.
Pada puncak emosi, sang istri mengaku sempat berlutut dan mengucapkan keinginan untuk bercerai.
Suami disebut terkejut mendengar pernyataan tersebut dan berjanji akan mempertimbangkan kembali sikapnya, termasuk berkomitmen untuk berdiskusi terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan keuangan dalam jumlah besar.
Pasangan itu dilaporkan tidak tidur semalaman untuk membicarakan persoalan tersebut.
Hingga kini, belum ada keputusan akhir terkait kelanjutan rumah tangga mereka.
(cr31/tribun-medan.com)
Contact to : [email protected]
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.