Jakarta (ANTARA) - Puncak perayaan Festival Imlek Nasional 2026, melalui kegiatan ‘Makan Besar Bersama Bobon Santoso’ berhasil memecahkan Guinnes World Record yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta.
Capaian positif ini disambut baik oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar yang mengatakan bahwa Lontong Cap Go Meh yang disajikan menjadi simbol akulturasi sekaligus kreativitas kuliner dan inklusivitas.
“Kegiatan makan besar ini memberi kesempatan bagi pelaku UMKM, kreator konten, dan komunitas lokal untuk menampilkan inovasi sambil menjaga tradisi kuliner yang menjadi bagian dari kekayaan ekonomi kreatif Indonesia,” kata Wamen Ekraf Irene melalui keterangan resminya diterima dan dikonfirmasi di Jakarta pada Minggu.
“Karena perayaan Imlek bertepatan dengan Ramadan, hidangan berupa Lontong Cap Go Meh simbol akulturasi kuliner Tionghoa dan tradisi Ramadan Indonesia,” lanjut dia.
Kegiatan yang berhasil memecahkan rekor dunia ini menyajikan Lontong Cap Go Meh sebanyak 5.054 porsi hidangan, sehingga secara resmi memecahkan Guinness World Record dalam kategori Most Servings of Lontong Cap Go Meh Served in 8 Hours.
Kegiatan makan besar ini dimanfaatkan oleh ribuan masyarakat dari berbagai latar belakang pun hadir untuk menikmati hidangan khas Lontong Cap Go Meh.
“Acara makan besar ini bukan hanya soal menikmati hidangan, tetapi juga menjadi momentum berbagi, berinteraksi, dan merayakan kekayaan kuliner serta tradisi Cap Go Meh,” ujar Irene.
Kegiatan Makan Besar Bersama Bobon Santoso membuktikan bahwa kuliner tradisional Indonesia bukan hanya soal rasa, tetapi juga menjadi simbol persatuan, wahana kreativitas, dan the new engine of growth bagi ekosistem ekonomi kreatif bangsa.
Nilai kebersamaan, gotong‑royong, dan apresiasi terhadap budaya kuliner terlihat nyata dalam partisipasi masyarakat, menegaskan bahwa ekonomi kreatif tumbuh dari kreativitas, budaya, dan partisipasi publik, bukan hanya dari industri besar semata.