TRIBUNWOW.COM - Bukti negara hadir lewat BPJS Ketenagakerjaan lindungi para pejuang nafkah terlihat nyata di tengah hiruk pikuk Kota Surakarta.

Kepala Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Solo, Teguh Wiyono menjelaskan tentang lima program jaminan sosial yang bisa dirasakan masyarakat pekerja dengan dibedakan menjadi dua yakni pekerja formal dan informal.

Formal yakni para pekerja yang didaftarkan secara langsung oleh perusahaan tempatnya bekerja.

Sedangkan informal yakni para pekerja mandiri di luar perusahaan di antaranya seperti UMKM, Ojek Online (Ojol), dan sebagainya.

"Program jaminan sosial itu ada lima, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP) dan kehilangan pekerjaan," beber Teguh Wiyono kepada TribunWow.com, Rabu (6/11/2024). 

Teguh menjelaskan secara detail apa manfaat penting para masyarakat pekerja ikut serta dalam program jaminan kecelakaan kerja mulai dari fasilitas yang didapat hingga santunan yang akan diberikan.

"Salah satunya tadi program jaminan kecelakaan kerja, memberikan perlindungan terhadap risiko kecelakaan yang ada hubungannya dengan pekerjaan, ada hubungannya itu ya saat berangkat dari rumah ke tempat kerja, kemudian saat di lingkungan pekerjaan, kemudian saat kembali lagi, itu lingkup program kecelakaan kerja."

"Manfaatnya apa, ya tadi kalau ada risiko kecelakaan, pengobatannya ditanggung sampai sembuh, kemudian jumlah hari yang ditinggalkan karena dokter dan dirawat tadi, penghasilannya hilang diganti oleh BPJS Ketenagakerjaan, kemudian kalau ada kecacatan, dihitung kecacatanya tersebut dengan santunan dari BPJS Ketenagakerjaan, kemudian kalau kecelakaan tadi kemudian meninggal dunia, maka diberikan santunan 48 kali upah yang dilaporkan," jelasnya.

"Ditambah lagi kalau ikut jaminan pensiun, pensiun tiap bulannya untuk ahli warisnya, kemudian untuk anaknya diberikan beasiswa dari TK sampai perguruan tinggi, untuk dua orang maksimal Rp 174 Juta," lanjutnya.

Lebih lanjut, Teguh juga turut membeberkan fasilitas yang didapatkan jika para masyarakat pekerja ikut serta dalam program jaminan sosial kematian.

"Untuk program kematian, maka akan diberikan santunan kematian meninggal sebab apapun yang penting di luar hubungan kerja, saat jalan-jalan meninggal dunia, kecelakaan ya dapatnya Rp 42 Juta, dia sakit karena penyakit dan meninggal dunia itu dapat Rp 42 juta," jelasnya.

Apabila sudah ikut program jaminan kematian selama tiga tahun, anak dari masyarakat pekerja tersebut akan mendapatkan bantuan beasiswa dari TK sampai dengan perguruan tinggi untuk dua orang.

"Kemudian kalau sudah ikut selama tiga tahun program jaminan kematian, anaknya pun diberikan bantuan beasiswa dari TK sampai perguruan tinggi untuk dua orang anak," ungkap pria kelahiran Karanganyar tersebut.

Kemudian ada lagi program jaminan hari tua.

Di mana, program jaminan hari tua ini tak ubahnya seperti menabung.

Iuran setiap bulan dengan suku bunga deposito yang bisa didapatkan di atas rata-rata 2 persen.

"Kemudian jaminan hari tua, ini sifatnya seperti tabungan, jadi iuran tiap bulan akan diberikan pengembangan, boleh diambil saat yang bersangkutan sudah tidak bekerja lagi, pengembangannya pasti di atas rata-rata suku bunga deposito itu di atas 2 persen tadi," ujarnya.

Di sisi lain, meski ada dua kategori yakni pekerja formal dan informal, secara santunan program, keduanya memiliki besaran yang sama.

"Semua program sama santunannya, meski formal maupun informal, dulunya pekerja aktif dan sekarang sudah mandiri itu tetap sama," lanjut Teguh.

Di sisi lain, Teguh turut memberikan pesan kepada generasi Milenial dan Gen Z yang cenderung lebih suka pekerjaan mandiri untuk ikut serta dalam program jaminan sosial BPJS

Ketenagakerjaan sebagai langkah antisipasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Melihat kondisi sekarang ini kan banyak pekerjaan-pekerjaan yang mandiri, generasi sekarang kan kebanyakan tidak mau terikat, maunya kerja mandiri suka-sukalah yang penting punya penghasilan, walaupun yang bersangkutan mampu dan berpenghasilan besar, namun, suatu saat ada risiko, dia tidak punya jaminan sosialnya tadi pasti akan memberatkan."

"Jaminan sosial pekerjaan ini, ini adalah bukti negara hadir, maka, negara hadir itu memperhatikan kesejahteraan masyarakat pekerjanya, maka harus diikuti, karena apa, itu tadi untuk jaga-jaga, Namanya perlindungan itu kan untuk jaga-jaga, kalau tidak ada risiko ya alhamdulilah, kalau ada risiko sudah tak memberatkan lagi," pungkasnya.

Potret ojol asal Surakarta, Ryan Odi Bagaskara.
Potret ojol asal Surakarta, Ryan Odi Bagaskara. (HO TribunWow.com)

Lindungi Pejuang di Tengah Kerasnya Jalanan

Di bawah rindangnya pepohonan di salah satu sudut Kota Surakarta, Jawa Tengah, seorang ayah milenial satu anak bernama Ryan Odi Bagaskara tengah beristirahat sejenak.

Wajar saja, Ryan, begitu sapaan akrabnya sudah bergelut dengan jalanan Kota Surakarta sejak pukul 05.30 WIB.

Hal itu senantiasa dilakukan Ryan demi sesegera mungkin mendapatkan orderan dari para customernya.

Tak terasa saat itu, sudah empat jam Ryan berjibaku di tengah padatnya jalanan Kota Surakarta di pagi hari.

Sembari memulihkan tenaganya, Ryan memutuskan untuk berteduh sejenak.

Meski tengah beristirahat, handphone tak pernah ia lepas dari genggamannya.

Ryan terus stand by menantikan nada dering notifikasi pertanda orderan dari customernya tiba.

Begitulah keseharian Ryan 3 tahun terakhir dari pagi hingga sore hari setelah diberhentikan dari hotel tempatnya bekerja.

Saat itu, hotel tempat Ryan bekerja terkena imbas pandemi Covid-19 yang berdampak pada diberhentikannya para pegawai termasuk dirinya.

Nasib tak mengenakkan itu dialami Ryan pada tahun 2021 silam.

Awalnya, tak terbesit di pikiran Ryan ia akan berpeluh keringat satu hari di jalanan Kota Surakarta.

Mengingat pada saat itu, profesi driver ojek online (ojol) yang ia tekuni sejak 2017 hanya diperuntukkan sebagai sambilan saja.

Dan barulah, ketika diberhentikan dari hotel, profesi driver ojol menjadi pekerjaan pokok Ryan untuk mencarikan nafkah bagi keluarga kecilnya.

"Kalau Gojek saya sudah dari 2017, dari 2017 saya gojek sambilan, waktu pandemi jadi pokok karena dulu ada pengurangan pegawai. Dulu saya di hotel kerjanya, ada pengurangan, dulu kan waktu pandemi hotel terpengaruh sekali," ujar Ryanodi Bagaskara kepada TribunWow.com, Kamis (27/11/2025).

Tentu saja, pilihan Ryan untuk menekuni profesinya sebagai driver ojol lebih berpotensi terjadinya kecelakaan kerja ketimbang saat bekerja di hotel beberapa tahun lalu.

Padatnya lalu lintas Kota Surakarta serta acap kalinya dikejar waktu oleh customer jadi makanan sehari-hari yang tak terelakan oleh Ryan.

Faktor itu yang membuat risiko profesi driver ojol yang ditekuni Ryan potensi rawan terjadinya kecelakaan kerja.

Meski risiko profesinya sebagai driver ojol lebih besar ketimbang pekerjaanya dulu, Ryan mengaku tak terlalu mengkhawatirkan hal itu.

Keputusannya untuk ikut serta dalam program BPJS Ketenagakerjaan jadi sebabnya.

Hal itu bermula dari rekan Ryan yang memintanya segera untuk mendaftarkan diri ikut serta BPJS Ketenagakerjaan.

Gayung bersambut, keluarga Ryan pun turut memberikan dukungannya agar segera mendaftarkan diri sebagai peserta program BPJS Ketenagakerjaan.

"Pertama kali itu, awalnya lihat teman, disuruh iku, jadi kalau ada apa-apa nanti bisa tercover BPJS Ketenagakerjaan."

"Otomatis saya tanya keluarga, bagaimana kalau saya ikut, nanti setiap tanggal 1 ada potongan Rp 16 ribu, katanya gapapa ya sudah saya langsung ikut BPJS saya aktifkan di aplikasi Go Partner," ungkap Ryan seraya menirukan jawaban dari keluarganya.

Melalui aplikasi Go Partner, Ryan mendapatkan kemudahan untuk melakukan proses pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan.

"Tidak susah ngurus ke mana-mana, ini sudah langsung ke proses sama pihak Gojek, jadi gak ribet. Untuk protes potongan, kita tinggal menyediakan saldo sama kayak ktp, nanti proses yang ngurus dari Gojek, kita tinggal mencet-mencet saja, nanti kalau sudah jadi ada notifikasinya seperti itu."

"BPJS kan sudah banyak yang memakai, jadi sudah percaya dengan BPJS Ketenagakerjaan, reviewnya bagus," jelas Ryan.

Untuk iuran Rp 16 ribu per bulan, Ryan mengaku tak keberatan.

Justru, pria berusia 30 tahun itu tak terasa adanya potongan karena diambilkan secara langsung melalui GoPay miliknya.

"Rp 16 ribu itu per bulan gak kerasa, itu kan di potong dari saldo go pay langsung otomatis, jadi kita gak kerasa, gak liat, oh paling terpotong ini," ungkapnya.

Lebih lanjut, untuk penghasilan per harinya, Ryan mengaku mendapatkan rata-rata pendapatan di angka Rp 200 ribu per hari.

Itu belum dengan bensin dan makan siang, jika dihitung dengan pengeluaran per harinya, Ryan bisa menyimpan uang Rp 150 ribu.

Penghasilan itu masih ditambah dengan pendapatan sang istri yang juga turut membantunya mencari tambahan rezeki.

Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hal itu juga dilakukan Ryan dan sang istri untuk biaya sekolah anak yang sudah menginjak kelas 3 SD.

Serta untuk mengisi tabungan yang nantinya bisa diperuntukkan apabila ada kebutuhan mendesak.

"Kalau saya alhamdulilah dari istri juga membantu ikut kerja juga, saya yang buat sehari-hari, istri untuk tabungan anak. Kebetulan anak sudah kelas 3 SD. Di mana, sudah waktunya banyak biaya yang dikeluarkan. Kadang kalau pendapatan rendah, bisa diambilkan dari tabungan dulu."

"Dari Gojek ini kan penghasilan tidak pasti, kadang bisa tinggi kadang bisa rendah. Kalau penghasilan saya, ini kan pokok, jadi harus bisa maksimal, jadi kalau rata-rata dari setengah 6 pagi sampai setengah 6 sore atau sebelum Magrib, rata-rata itu Rp 200 ribu. Tapi kan itu gak bersih, buat bensin sama makan di jalan jadi bersihnya Rp 150 ribu," bebernya.

Di sisi lain, Ryan mengajak rekan-rekannya terutama para pejuang nafkah di jalanan yang berprofesi sebagai ojol untuk segera ikut BPJS Ketenagakerjaan.

Menurut Ryan, ikut serta dalam program BPJS Ketenagakerjaan merupakan langkah antisipasi agar bisa mendapatkan jaminan sosial jika suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Tiga tahun pakai BPJS Ketenagakerjaan, semoga saja tidak ada hal yang tidak diinginkan, ini langkah antisipasi saja. Intinya kalau yang belum ikut BPJS Ketenagakerjaan, segeralah ikut BPJS, karena itu kan membantu kita yang bekerja di jalan, jadi walaupun Rp 16 ribu itu sih gak kerasa sih menurut saya, lebih baik mengantisipasi daripada nanti kejadian malah lebih banyak dana yang dikeluarkan," pungkasnya.

Negara Ada Bantu Pekerja yang Alami Ketidakadilan

Tak disangka, Tri Purwanto yang sudah mengabdikan dirinya di salah satu perusahaan swasta di Kabupaten Karanganyar harus berakhir memilukan karena kerap mengalami penunggakan gaji.

Hingga akhirnya, keputusan sulit untuk resign harus diambil Tri Purwanto untuk bisa menyambung hidup keluarga kecilnya.

“Imbas covid-19, perusahaan udah mulai enggak normal.  Kalau tutup sih belum tutup, tapi efisiensinya kurang misalnya dalam pembayaran jadi kan kadang-kadang mundur. Itu pengocoran besi.  Padahal saya sudah kerja di besi itu sudah 12 tahun lamanya,” cerita Tri Purwanto seraya mengingat masa pelik itu.

Status karyawan tetap yang sudah disandang itu pun mau tidak mau harus dilepaskan.

Tri Purwanto juga menceritakan bagaimana seluk beluk dirinya dahulu saat masih berjuang mencari nafkah di pabrik tersebut demi menopang ekonomi keluarganya.

“Sistemnya kontrak, itu jadi sebenarnya udah karyawan tetap, cuma terus kan ganti manajer itu terus berubah secara kebijakan semenjak covid itu.”

“Kalau dulu itu kontraknya lama tapi semenjak covid itu biasanya kontraknya 3 bulan. 3 bulan itu perpanjang kontrak. Kalau 3 bulan itu dilihat absensinya bagus, diperpanjang lagi 6 bulan jadi berjangka terus. 3 bulan pertama kontraknya,” ungkap Tri Purwanto.

Seraya mendengarkan cerita sang suami mengenang masa sulit itu, Wulan ikut menceritakan pengalaman suaminya yang pernah alami penunggakan gaji selama 15 hari lamanya.

“Soalnya duit gaji suami itu bisa terlambat sampai 15 hari,” sahut Tri Wulan.

Sejatinya, Wulan mengaku sangat menyayangkan suaminya resign dari tempat kerja yang sudah 12 tahun ditekuninya.

Namun apa daya, gaji yang dicicil buat keputusan sulit untuk resign tak bisa terelakan.

Mengingat, himpitan ekonomi jadi faktor tekat bulat resign itu dipilih oleh Tri Purwanto atas dasar pertimbangan sang istri.

“Dulu sebenarnya sayang juga saat itu harus resign. Temannya juga sudah banyak, maneman. Tapi gajimu yang dicicil ini tidak bisa untuk memenuhi kebutuhan pokok dirumah. Awalnya cuma lima hari, tujuh hari itu telatnya.Yang terakhir-terakhir itu sampai lima kali lagi, itu namanya kumpulin gaji,” bongkar Wulan.

Tak cuma gaji, Tunjangan Hari Raya (THR) yang notabene merupakan hak pekerja juga dicicil.

Bahkan dicicil dengan nominal tak menentu di setiap bulannya.

“THR itu juga dicicil, itu kan reward. Itu dicicil enggak pasti, setiap bulan keluar. Dicicil sebulan 200, tapi tidak pasti, setiap bulan keluar tapi enggak pasti berapa persennya. Kadang 14 persen, kadang berapa persen. Itu sudah ada yang pernah speak up di email, tapi terus itu ada masalah,” ungkap Wulan.

Potret Kantin Ibun Zio yang berada di SMP N 16 Surakarta.
Potret Kantin Ibun Zio yang berada di SMP N 16 Surakarta. (TribunWow.com/Adi Manggala Saputro)

Beri Perlindungan Hak Pekerja dan Jamin Masa Depan Lebih Terang

Tak berselang lama setelah resign, Tri Purwanto memutuskan untuk mengurus sendiri BPJS Ketenagakerjaan miliknya.

 Tri Purwanto mengatakan, mengurus proses administrasi pencairan dana dari BPJS Ketenagakerjaan sangat mudah.

 Bahkan hanya memakan waktu satu minggu hingga akhirnya di wawancarai oleh pihak BPJS Ketenagakerjaan melalui video call.

 “Dari BPJS Ketenagakerjaan kan ada tenaga kerja, kesehatan sama pensiun. Tenaga kerja itu saya ngurus sendiri. Mungkin dapat surat dari perusahaan. Langsung saya online ke BPJS Ketenagakerjaan. Nunggu satu minggu, satu minggu langsung cair, itu mudah banget. Di telfon lebih dulu dan diwawancarai, wawancara dilakukan dengan video call,” ungkap pria asli kelahiran Tasik Madu tersebut.

 Setelah mendapatkan dana BPJS Ketenagakerjaan, dirinya memutuskan untuk mengalokasikan uang tersebut ke beberapa kebutuhan.

 Paling mendesak yakni untuk pelunasan utang.

 Sedangkan sisanya dialokasikan untuk ditabung serta modal usaha istri untuk berjualan makanan di kantin sekolah.

 “Kalau namanya orang rumah tangga itu kan lumrah jika mempunyai utang, nah, sebisa mungkin uang itu buat melunasi utang itu. Terus kan masih ada sisa sisanya itu saya tabung dulu. Terus kan istri saya jualan di rumah sama nitip di kantin,” ujarnya.

 Setelah resign, Tri Purwanto memilih untuk fokus membantu istri berjualan di rumah.

 “Saya ikut fokus jualan, yang penting masih ada tabungan. Dulu enggak langsung dapat kantin, nunggu beberapa waktu dulu. Alhamdulilahnya, sekarang sudah tidak ada pinjaman tinggal fokus buat usaha,” lanjutnya.

 Tepat di bulan Agustus tahun 2023, Tri Purwanto dan Wulan mulai untuk rintis usaha kantin di SMP N 16 Surakarta.

 Setelah putuskan untuk membuka usaha baru, mau tidak mau, uang yang tadinya ada di tabungan kembali diambil untuk diputarkan.

 “Setelah dapat ini dapat kantin dua tahun yang lalu, Agustus 2023. Nah itu uang yang ditabungkan itu diambil dulu. Diambil buat perputaran, terus alhamdulillah masih jalan sekarang bahkan sudah punya tabungan lagi. Dulu, baru beberapa bulan dimasukkan sudah diambil lagi buat modal. Sekarang sudah ada tabungan karena sudah ada anak yang harus diprioritaskan,” ujarnya.

 Tak disangka, usaha baru keduanya berhasil buka jalan masa depan yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

 Satu per satu hasil dari usaha kantin mulai menunjukkan perkembangannya.

 “Kalau perkembangan ya alhamdulillah, awal mula kan kita tidak punya itu Softcase kulkas, sekarang kan sudah punya. Alhamdulillah dari awal sampai sekarang ya ada perkembangan lainnya,” jelas Wulan.

 Untuk menu yang dijajakan di kantinnya, Tri Purwanto dan Wulan menyediakan aneka makanan dan minuman.

 Bahkan, beberapa makanan mereka produksi sendiri seperti gorengan dan nasi.

 Hal itu dilakukan agar keduanya bisa meraup laba lebih banyak ketimbang hanya mengandalkan makanan titipan dari orang lain.

 “Ini banyak, kalau nasi itu ada nasi ricis, ayam katsu dan bakso kuah. Kalau untuk gorengan banyak yang dibuat sendiri. Soalnya kan kita kerja berdua, kalau semua titipan kan labanya enggak bagus,” terangnya.

Selain ingin mengembangkan kantin miliknya, Tri Purwanto dan Wulan ingin membuka usaha baru yakni es teh jumbo.

 Rencananya, usaha itu nantinya bakal dibuka di daerah area kampus UNS

 “Maunya sih buka usaha baru. Cuma cari tempatnya susah mau buka es the jumbo daerah kampus itu kan lumayan di UNS,” ungkap Wulan.

 Dari Hak Pekerja ke Masa Depan yang Lebih Menjanjikan

 Lebih lanjut, Tri Purwanto menceritakan mimpi keluarga kecilnya yang satu per satu mulai terwujud setelah dibantu oleh BPJS Ketenagakerjaan pasca resign dari perusahaan tempatnya bekerja.

 Mulai dari utang yang lunas, tabungan kembali pulih, investasi di peternakan dan emas hingga berencana untuk buka usaha baru.

 “Kalau buat muter, alhamduliah kembali. Tabungannya sudah kembali dengan nominal sama. Alhamdulillah, rumah saya kan di sini sama di desa, di sini kan ikut mertua. Kalau aslinya kan di Tasik Madu, Karanganyar. Di sana sudah membeli sapi satu,” jelas Tri Purwanto.

 “Terus ya emas-mas saya sudah kembali, alhamdulillah juga sekarang udah enggak ada utang,” imbuh Wulan.

 Untuk bisnis jual beli sapi, Tri Purwanto menjual sapinya hanya saat momen Idul Adha.

 Di mana, pada momen Idul Adha itu, harga sapi meningkat drastis.

 “Enggak, setiap hari kurban harganya naik. Kalau tiga bulan yang itu kan buat, itu ada juga. Tiga bulan itu kan buat dijual dagingnya. Dulu emang rencananya gitu, tiga bulan. Tapi kan kita mempunyai usaha gini.”

 “Kalau di kampung, pulang balik kampung, jauh. Jadi yang di kampung itu, yang mengurus itu ayah saya. Jadi kalau mau menjual, pasti setiap kurban aja, setahun sekali,” jelas Tri Purwanto.

 Sebagian hasilnya dicicil untuk membangun rumah di desa dikit demi sedikit.

 “Ini juga baru nabung buat rumah di desa sedikit-sedikit,” ujar Wulan seraya menunjukkan raut wajah bahagianya.

 Sementara itu, ketika bulan puasa, Wulan memutuskan untuk berjualan dirumah seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

 “Tapi kan kalau di sini puasa sama liburan sekolah libur, jadi jualan di rumah. Dulu kan awal jualan itu juga dibantu suami, suami yang delivery. Suami yang delivery, saya yang jualan di rumah.  Jualan kayak mie, bakso bakar, bakso goreng, gorengan juga.”

 “Minimal order dulu habis Rp100.000 ke atas free ongkir, adanya delivery juga buat jualannya dulu cepat habis. Sebenernya ninggalin itu sayang, cuma kalau dua jalan nggak bisa,” kenangnya.

Untuk penghasilan di kantin, Wulan mengaku bersyukur karena mendapatkan pendapatan yang terbilang konsisten.

Bahkan, 50 dus nasi dengan harga Rp5.000 selalu habis di jam pertama istirahat.

“Di sini enggak ada istirahatnya. Jajanannya habis goreng lagi, habis goreng lagi, Alhamdulillah rame. Saya kalau jualan nasi itu sehari  hampir 50 dus Rp5.000-an. Itu cuma habis di jam pertama, jam kedua udah nggak ada lagi.”

“Yang bikin nasi itu ibu yang bantuin aku. Bakso itu juga tiap hari bikin.  Jadi setiap hari itu bikin bakso,” ungkapnya.

Untuk penghasilan, Wulan mengaku memiliki pemasukkan lebih untuk membayar sewa tempat kantin yang digunakannya saat ini.

“Sewanya Rp300.000 sampai 500.000, alhamdulilah tercover dan malah lebih,” ujarnya. 

(TribunWow.com/Adi Manggala S)

Contact to : [email protected]


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.